Sabtu, 14 Januari 2012

KARAKTER ORANG DARI TULISAN

Menulis bagi beberapa orang terasa menyenangkan dan beberapa merasa menulis adalah hal membosankan. Disadari atau tidak, ketika menulis ternyata kita juga sedang menyalurkan apa yang kita rasakan. Oleh karena itu, setiap manusia memiliki tulisan tangan berbeda-beda.

Dengan melihat gaya tulisan tangan seseorang, ternyata akan bisa disimpulkan karakter orang tersebut. Terdapat sebuah ilmu yang mempelajari cara mengenali karakter dari tulisan tangan.

Kamu bisa menggunakan parameter sederhana berikut ini untuk mengenali karakter seseorang dari tulisan tangan:

1. Tekanan

Dengan melihat goresan tinta tulisan tangan seseorang, kita bisa mengetahui karakter orang tersebut. Kuat Ringannya seseorang dalam menulis menggambarkan emosi orang tersebut.

Tekanan yang kuat:

Orang yang memiliki tulisan tebal, bahkan kadang tulisannya membekas sampai kertas sebaliknya, biasanya mereka memiliki emosional yang tinggi. Mereka terlalu mendalami perasaan mereka baik itu bahagia atau sakit hati. Mereka menyerap segala suatu seperti spon.

Biasanya mereka juga memiliki selera yang tinggi. Tegas dan memiliki keinginan yang kuat bahkan cenderung memaksakan orang lain untuk menuruti kemauan meraka. Makanya tak jarang orang yang memiliki tekanan tulisan seperti ini biasanya kaku susah menyesuaikan diri dalam pergaulan.

Tekanan yang ringan:

Tulisan yang memiliki tekanan halus mencerminkan kepribadian yang tenang dan santai. Mereka lebih bertoleransi pengertian sulit mengambil keputusan dan biasanya mudah terpengaruh

2. Ukuran

Selain tekanan, Ukuran juga bisa digunakan untuk mengetahui sifat dasar seseorang.

Tulisan besar

Orang yang menulis dengan ukuran tulisan yang besar biasanya cenderung suka diperhatikan selalu ingin tampil didepan dan ingin didengarkan.

Tulisan kecil

Orang yang menulis dengan ukuran kecil biasanya lebih memperhatikan detail introspektif cenderung lebih pendiam dan mandiri

3. Kemiringan

Tulisan tangan seseorang biasanya ada yang miring, ke kanan atau kekiri. Dari kemiringan tulisan tangannya, kita bisa mengetahui karakternya.

Miring ke kanan

Orang dengan tulisan seperti ini biasanya memiliki karakter yang impulsif emosional aktif suka bergaul ramah menyukai tantangan lebih terbuka (ekstrovert) dan ekspresif.

Miring ke kiri

Jenis tulisan seperti ini biasanya penulisnya bersikap menutup diri (introvert). Lebih protektif selalu berpikir logis dan mencerminkan sifat seseoarang yang lebih menarik diri.

Tegak lurus

Orang yang memiliki tulisan tegak lurus mencerminkan seseorang yang bisa mengontrol diri dan bisa menahan amarahnnya atau emosinya.

Diadaptasi dari: Winedi10

Hanya Member Dapat Melihat Link. ]

Fisik wajah anda mencerminkan siapa diri anda sebenarnya yang ada di dalam. Itu sebabnya membaca wajah merupakan alat yang sangat efektif dan akurat dalam mengamati orang. Saat anda tumbuh maka akan terjadi perubahan dalam diri anda, wajah anda berubah pada bagian luar. Itu berarti wajah anda punya banyak makna daripada yang anda duga.

Bentuk wajah bukan hanya dapat mengungkap kepribadian dan masa depan anda tapi juga apakah anda serasi dengan pasangan anda.

Berikut karakter dan sifat yang dapat diungkap dari wajah anda;

1. ALIS

Dapat menunjukkan pola pikir anda.

1. Bila anda memiliki alis dengan pangkal tebal lalu menepis di ujung menunjukkan anda sangat berbakat dalam memulai proyek-proyek baru.

2. Alis yang dimulai dengan pangkal tipis dan berakhir dengan ujung lebih tebal menunjukkan orang yang berbakat mengikuti detail.

3. Jika alis anda tebal berarti menunjukkan kekuatan intelektual

4. Bila anda memiliki alis tipis tipis menunjukkan intensitas mental.

5. Bentuk alis yang lurus menunjukkan bahwa anda adalah orang yang baik, estetis tapi jika jaraknya terlalu dekat ke mata.

6. Bila alis anda terlalu tebal berarti anda adalah orang yang mudah marah dan tidak sabar.

7. - Alis yang agak menunjuk ke telinga member arti bahwa anda adalah orang yang senang sikap ramah.


2. TELINGA

Menunjukkan bagaimana anda merancang realita dan bagaimana anda bereaksi secara tidak sadar terhadap hal-hal di sekitar anda.

1. Bila telinga anda panjang maka menunjukkan bahwa anda memiliki kemampuan mendengarkan yang luar biasa.

2. Jika telinga anda ukurannya sedang maka menunjukkan keluwesan dalam mendengarkan.

3. Tetapi jika telinga anda pendek maka menunjukkan kecenderungan bukan hanya mengumpulkan informasi tapi juga memperhatikannya secara serius.

4. Bentuk telinga anda yang menyudut ke dalam biasanya berarti anda mudah menyesuaikan diri.

5. Sedangkan telinga yang menyudut ke luar menunjukkan bahwa anda ragu mengikuti aturan masyarakat.

6. Untuk telinga anda yang letaknya lebih tinggi dibandingkan alis maka menunjukkan bahwa anda orang yang ingin berprestasi tinggi.


3. HIDUNG

Menunjukkan bagaimana anda mengelola uang dan apa yang membuat anda beda sebagai pekerja.

1. Hidung pendek menunjukkan bakat kerja keras.

2. Hidung panjang menunjukkan ketrampilan perencanaan dan strategi yang istimewa.

3. Hidung lurus menunjukkan sistematis.

4. Hidung melengkung mengungkapkan kreativitas.

5. Hidung berjendul menunjukkan pekerjaan anda maju mundur.

6. Hidung besar menunjukkan kemampuan mencari uang.

7. Jika lubang hidung lebih tertutup daripada terbuka, orang ini berkemungkinan lebih besar mempertahankan kekayaannya.


4. MULUT

Untuk ekspresi diri .

1. Bentuk bibir penuh, pintar membuat percakapan jadi terbuka lebar dan bisa mengungkapkan sesuatu yang memalukan.

2. Bibir yang tipis menunjukkan bahwa anda lebih pintar dalam menyimpan rahasia pribadi.

3. Bibir yang pendek dapat menunjukkan bahwa anda lebih menyukai percakapan satu arah.

4. Anda memiliki bibir yang panjang maka menunjukkan bahwa kemampuan bicara dengan banyak orang.

5. Bila anda memiliki bibir penuh dan cuping telinga besar dapat menunjukkan bahwa anda adalah orang yang sangat sensual.

6. Bibir atas yang tipis menunjukkan orang yang kurang afeksi sedangkan bibir bawah lebih penuh menunjukkan menerima tantangan.


5. DAGU DAN RAHANG

Secara bersama-sama atau terpisah bisa mengungkapkan etika, kemampuan membuat keputusan serta cara mengatasi konflik. Rahang yang lebar dapat menunjukkan bahwa anda cenderung lebih fisik daripada mental. Begitu juga sebaliknya jika rahang anda sempit. Sedangkan dahi tinggi menunjukkan pemikir sedangkan dahi bulat menunjukkan idealistis.

Hati-hati, ada baiknya anda berhati-hati dengan orang yang memiliki bibir atas yang menonjol keluar ke atas bibir bawah terutama jika bibir atasnya tipis. Karena orang seperti ini kemungkinan mempunyai s

ifat mencari mangsa.

Anda juga harus waspada dengan orang yang memiliki wajah berhidup luar biasa lancip dan menurun, bibir hampir tidak terlihat, mata kecil dan tulang pipi tinggi dengan sedikit daging. Karena orang yang memiliki bentuk wajah ini memiliki sifat yang kejam.

- just share -

Saat kita menulis sebenarnya tangan kita hanya sebagai alat untuk memegang pena. Gaya tulisan kita itu berasal dari pikiran bawah sadar kita. maka bisa dikatakan bahwa tulisan bisa mengungkapkan berbagai perasaan emosi si penulisnya. Tentu saja untuk mengetahuinya tidak sembarangan ada ilmu membaca rahasia dibalik tulisan tangan atau yang disebut dengan graphology. Ambil pulpenmu dan tuliskan sesuatu yang mana yah kira-kira karaktermu? Berikut penjelasan secara garis besarnya.

Tekanan
Dari kuat atau ringannya tekanan tulisan seseorang kita dapat mengetahui karakter orang tersebut. Bisa kamu perhatikan dengan memperhatikan bekas goresan dibalik kertas.

Tekanan yang kuat:
Orang yang tulisannya tebal hingga menimbulkan bekas coretan dibalik kertas biasanya mereka memiliki emosional yang tinggi. Terlalu mendalami perasaan mereka baik itu bahagia atau sakit hati. Mereka menyerap segala suatu seperti spon. Biasanya mereka juga memiliki selera yang tinggi. Tegas dan memiliki keinginan yang kuat bahkan cenderung memaksakan orang lain untuk menuruti kemauan meraka. Makanya tak jarang orang yang memiliki tekanan tulisan seperti ini biasanya kaku susah menyesuaikan diri dalam pergaulan.

Tekanan yang ringan:
Tulisan yang memiliki tekanan halus mencerminkan kepribadian yang tenang dan santai. Mereka lebih bertoleransi pengertian sulit mengambil keputusan dan biasanya mudah terpengaruh

Ukuran
Tulisan besar

Orang yang menulis dengan ukuran tulisan yang besar biasanya cenderung suka diperhatikan selalu ingin tampil didepan dan ingin didengarkan.
Tulisan kecil
Orang yang menulis dengan ukuran kecil biasanya lebih memperhatikan detail introspektif cenderung lebih pendiam dan mandiri

Kemiringan
Miring ke kanan

Orang dengan tulisan seperti ini biasanya memiliki karakter yang impulsif emosional aktif suka bergaul ramah menyukai tantangan lebih terbuka (ekstrovert) dan ekspresif
Miring ke kiri

Jenis tulisan seperti ini biasanya penulisnya bersikap menutup diri (introvert). Lebih protektif selalu berpikir logis dan mencerminkan sifat seseoarang yang lebih menarik diri.
Tegak lurus

Orang yang memiliki tulisan tegak lurus mencerminkan seseorang yang bisa mengontrol diri dan bisa menahan Saat kita menulis sebenarnya tangan kita hanya sebagai alat untuk memegang pena. Gaya tulisan kita itu berasal dari pikiran bawah sadar kita. maka bisa dikatakan bahwa tulisan bisa mengungkapkan berbagai perasaan emosi si penulisnya. Tentu saja untuk mengetahuinya tidak sembarangan ada ilmu membaca rahasia dibalik tulisan tangan atau yang disebut dengan graphology. Ambil pulpenmu dan tuliskan sesuatu yang mana yah kira-kira karaktermu? Berikut penjelasan secara garis besarnya.

Sumber: http://ikhwanpcr.blogspot.com

Ingin tahu karakter pasangan kamu, atau orang yang kamu taksir, tak perlu khawatir. Baca tips ini, yang mengungkap tentang kepribadian orang lewat bentuk wajahnya, dijamin kamu bakal tahu bagaimana kira-kira karakternya pasangan atau incaranmu.

Selama berabad-abad, manusia berusaha untuk memahami karakter seseorang dilihat dari wajahnya. Orang Cina percaya bahwa wajah merupakan refleksi dari kepribadian. Unsur yang terdapat dalam wajah seperti mata, hidung, bentuk wajah, hingga kerutan memiliki makna tertentu yang mampu mencermikan kepribadian seseorang.

Bentuk Muka
Bulat : Orang yang memilki muka bulat cenderung memiliki kepribadian yang emosional, sensitif, dan juga perhatian. Biasanya, pria yang memiliki muka bulat memiliki fantasi seksual yang sangat kuat dan nyaman dalam menjalami hubungan yang stabil dan jangka panjang.

Oval : Bentuk muka oval cenderung lebih praktis, sistematis dan pekerja keras. Kamu yang memiliki bentuk muka oval juga cenderung memiliki fisik yang atletis yang cenderung menciptakan narsisme pribadi yang mampu merusak hubungan.

Kotak : Orang dengan bentuk muka kotak cenderung agresif, ambissius, serta dominant. Kamu juga memiliki pemikiran yang tajam, ahli dalam melakukan analisis, dan kritis.

Segitiga : Bentuk muka seperti ini biasanya dimiliki oleh tubuh yang kurus dan memiliki kemampuan persuasi. Bentuk muka ini juga biasa dimiliki oleh orang Tionghoa yang memiliki pribadi yang kreatif dan sensitive tetapi juga temperamental.

Dahi
Dahi yang lebar menandakan suatu kecerdasan dan kepraktisan serta pribadi yang idealis namun tidak pernah mati kreativitas. Jika kamu memiliki dahi yang rata, ini mengindikasikan seseorang yang pragmatis, logis, dan yang selalu mengandalkan fakta dan data. Jika kamu memiliki dahi yang sangat lebar ini menandakan bahwa kau seorang pemimpi dan merupakan seseorang yang membutuhkan sebuah rencana aksi starategis untuk memenuhi ambisinya yang cukup besar.

Mata
Bagaimana cara mendeteksi seseorang itu berbohong? Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Richard Bandler dalam Neuro Linguistic Programming yang menjelaskan bahwa tatapan seseorang saat berbicara bisa mengindikasikan apa yang dipikirkannya. Jika seseorang bertanya dan mereka menengok ke kanan, ini menandakan mereka sedang berpikir dan menggunakan otak kreatifnya dengan mengumpulkan segala aspek visual yang ada. Hal ini mengindikasikan bahwa mereka berbohong. Jika mereka menengok ke sebelah kiri, ini mengindikasikan mereka menggunakakn memori yang ada di otak dan kemungkinan besar akan mengatakan kebenaran.

Bentuk mata juga sangat berpengaruh. Jika kamu memiliki mata besar cenderung akan lebih toleran dan berpikiran terbuka. Sementara yang memiliki mata sipit mengindikasikan orang tersebut berpikiran sempit.

Hidung
Hidung yang ideal berbentuk mancung, lurus, dan penuh. Hidung yang mengembang mengindikasikan personal yang hangat dan memiliki empati yang besar dengan sekelilingnya. Tipe ini juga biasanya memberikan standar yang cukup tinggi dalam hidupnya dan memiliki perilaku yang baik. Untuk ukuran hidung yang besar cenderung suka melakukan kekerasan. Semakin besar hidung yang dimiliki orang tersebut, kecenderungan untuk melakukan tindakan kekerasan pun semakin tinggi. Jika Anda memiliki hidung pesek , ini menunjukkan Anda sebagai pribadi yang independent dan tahan banting, meski terkadang terjadi naik turun dalam hubungan percintaan maupun dengan hubungan pertemanan dengan orang lain.

Mulut
Mulut terkait dengan komunikasi dan sensualitas yang bisa dilihat dari bentuk bibir. Jika bibir atas tipis dan bagian bibir bawah tebal, hal ini mengindikasikans seseorang yang tidak bisa melakukan hubungan timbal balik dalam suatu hubungan. Jika sebaliknya, bentuk mulut tersebut justru mengindikasikan seseorang yang terlalu berbelas kasih. Jika memiliki bibir tebal di bagian atas dan bawah, menunjukkan sifat yang penyayang dan sensitive. Sementara yang bermulut kecil mengindikasikan sifat yang kejam dan egois.

Kerutan
Kerutan di seputar mata menunjukkan garis kebahagiaan. Hal ini menunjukkan adanya tanda keterbukaan hati kepada semua orang. Garis vertical yang ada diantar mata menunjukkan sosok yang logis, pekerja keras, dan juga kritis. Kerutan di seputar hidung hingga menuju mulut merupakan garis tujuan hidup. Orang yang memiliki garis kerutan ini memiliki arah hidup yang tepat.

Segala bagian dari wajah kita memang bisa memancarkan kepribadian tertentu karena semuanya bergerak menunjukkan ekspresi tertentu pula. Dan tentu semuanya memiliki makna yang berlainan, namun Anda boleh mempercayai juga boleh tidak mempercayai interpretasi ini karena interpretasi hanya bisa dinilai oleh tiap individu dan interpretasi sifat seseorang juga tidak bisa hanya dilihat dari mimic muka, melainkan gesture tubuh dan kesehariannya

Like this articles? share it with Share With FacebookFacebook
<< Back

0 Comment | 1400 hits | Posted by Callrid at 2009-08-27 09:25:08

Membaca karakter seseorang berdasarkan bentuk wajah



[Hanya Member Dapat Melihat Link. ]

Fisik wajah anda mencerminkan siapa diri anda sebenarnya yang ada di dalam. Itu sebabnya membaca wajah merupakan alat yang sangat efektif dan akurat dalam mengamati orang. Saat anda tumbuh maka akan terjadi perubahan dalam diri anda, wajah anda berubah pada bagian luar. Itu berarti wajah anda punya banyak makna daripada yang anda duga.

Bentuk wajah bukan hanya dapat mengungkap kepribadian dan masa depan anda tapi juga apakah anda serasi dengan pasangan anda.

Berikut karakter dan sifat yang dapat diungkap dari wajah anda;

1. ALIS

Dapat menunjukkan pola pikir anda.

8. Bila anda memiliki alis dengan pangkal tebal lalu menepis di ujung menunjukkan anda sangat berbakat dalam memulai proyek-proyek baru.

9. Alis yang dimulai dengan pangkal tipis dan berakhir dengan ujung lebih tebal menunjukkan orang yang berbakat mengikuti detail.

10. Jika alis anda tebal berarti menunjukkan kekuatan intelektual

11. Bila anda memiliki alis tipis tipis menunjukkan intensitas mental.

12. Bentuk alis yang lurus menunjukkan bahwa anda adalah orang yang baik, estetis tapi jika jaraknya terlalu dekat ke mata.

13. Bila alis anda terlalu tebal berarti anda adalah orang yang mudah marah dan tidak sabar.

14. - Alis yang agak menunjuk ke telinga memberi arti bahwa anda adalah orang yang senang sikap ramah.


2. TELINGA

Menunjukkan bagaimana anda merancang realita dan bagaimana anda bereaksi secara tidak sadar terhadap hal-hal di sekitar anda.

7. Bila telinga anda panjang maka menunjukkan bahwa anda memiliki kemampuan mendengarkan yang luar biasa.

8. Jika telinga anda ukurannya sedang maka menunjukkan keluwesan dalam mendengarkan.

9. Tetapi jika telinga anda pendek maka menunjukkan kecenderungan bukan hanya mengumpulkan informasi tapi juga memperhatikannya secara serius.

10. Bentuk telinga anda yang menyudut ke dalam biasanya berarti anda mudah menyesuaikan diri.

11. Sedangkan telinga yang menyudut ke luar menunjukkan bahwa anda ragu mengikuti aturan masyarakat.

12. Untuk telinga anda yang letaknya lebih tinggi dibandingkan alis maka menunjukkan bahwa anda orang yang ingin berprestasi tinggi.


3. HIDUNG

Menunjukkan bagaimana anda mengelola uang dan apa yang membuat anda beda sebagai pekerja.

8. Hidung pendek menunjukkan bakat kerja keras.

9. Hidung panjang menunjukkan ketrampilan perencanaan dan strategi yang istimewa.

10. Hidung lurus menunjukkan sistematis.

11. Hidung melengkung mengungkapkan kreativitas.

12. Hidung berjendul menunjukkan pekerjaan anda maju mundur.

13. Hidung besar menunjukkan kemampuan mencari uang.

14. Jika lubang hidung lebih tertutup daripada terbuka, orang ini berkemungkinan lebih besar mempertahankan kekayaannya.


4. MULUT

Untuk ekspresi diri .

7. Bentuk bibir penuh, pintar membuat percakapan jadi terbuka lebar dan bisa mengungkapkan sesuatu yang memalukan.

8. Bibir yang tipis menunjukkan bahwa anda lebih pintar dalam menyimpan rahasia pribadi.

9. Bibir yang pendek dapat menunjukkan bahwa anda lebih menyukai percakapan satu arah.

10. Anda memiliki bibir yang panjang maka menunjukkan bahwa kemampuan bicara dengan banyak orang.

11. Bila anda memiliki bibir penuh dan cuping telinga besar dapat menunjukkan bahwa anda adalah orang yang sangat sensual.

12. Bibir atas yang tipis menunjukkan orang yang kurang afeksi sedangkan bibir bawah lebih penuh menunjukkan menerima tantangan.


5. DAGU DAN RAHANG

Secara bersama-sama atau terpisah bisa mengungkapkan etika, kemampuan membuat keputusan serta cara mengatasi konflik. Rahang yang lebar dapat menunjukkan bahwa anda cenderung lebih fisik daripada mental. Begitu juga sebaliknya jika rahang anda sempit. Sedangkan dahi tinggi menunjukkan pemikir sedangkan dahi bulat menunjukkan idealistis.

Hati-hati, ada baiknya anda berhati-hati dengan orang yang memiliki bibir atas yang menonjol keluar ke atas bibir bawah terutama jika bibir atasnya tipis. Karena orang seperti ini kemungkinan mempunyai sifat mencari mangsa.

Anda juga harus waspada dengan orang yang memiliki wajah berhidup luar biasa lancip dan menurun, bibir hampir tidak terlihat, mata kecil dan tulang pipi tinggi dengan sedikit daging. Karena orang yang memiliki bentuk wajah ini memiliki sifat yang kejam.

- just share -

http://www.asterpix.com/tagcloudclick/?id=2437661&url=http%3A//scribd.asterpix.com/cy/2437661/%3Fq%3D&tag=KEKUATAN%20PENUNJUKAN%20LAFAL%20TERHADAP%20MAKNA&q=fiqih%20ushul&referer=http%3A%2F%2Fwww.scribd.com%2Fdoc%2F38620518%2FUshul-Fiqih&ct=19&t=1299464039&s=g

sunna.

7. Terangkan pembagian tingkat dialah lafaz yang menunjukkan makna menurut ulama

syafi’iyah!

- Mujmal secara umum adalah: suatu lafaz yang menunjukkan makna yang dimaksud, tetapi

petunjuknya tidak jelas.

- Mutasyabih adalah: lemah (marjan).

8. Jelaskan persamaan dan perbedaan antara lafaz muskil dengan lafaz mujmal!

Persamaan: sama-sama tidak jelas maksudnya.

Perbedaan: mujmal lebih tinggi kadar khafanya dari pada musykil, sebab penjelasan mujmal

di peroleh dari syara’ bukan hasil utihad sedangkan mutasyabih: tidak jelas atau lemah.

9. Bagaimana hukum menepatkan dialah lafaz mujmal, zahir, nash mufassar dan muhkam?

- Hukum mujmal: tergantung kepada bayan/penjelasan.

- Hukum/kedudukan zahir: wajib diamalkan sesuai petunjuk lafaz itu sendiri sepanjang tidak

ada dalil yang mentakhsisnya, mentakwilnya atau menajaknya.

- Hukum nas: sama dengan hukum lafaz zhahir, yaitu wajib di amalkan petunjuknya.

- Hukum mufassar: wajib di amalkan secara Qathi’i, sepanjang tidak ada dalil yang

menasakhnya.

- Hukum muhkam: wajib diamalkan secara Qathi’i, tidak boleh dipalingkan dari maksud

asalnya dan tidak boleh dihapus.

10. Jelaskan kegunaan dan fungsi pembagian lafaz dari sisi kejelasannya!

Mempunyai faedah dan pengaruh dalam menggali dan menetapkan hukum kegunaan dan

pengaruh tersebut dapat dirasakan apabila terjadi pertentangan antara petunjuk macam-

macam lafaz tersebut.

11. Sebutkan macam-macam mujmal, beri contoh masing-masingnya!

- Lafaz yang mempunyai makna musytarak tanpa di iringi indikator

Contohnya: lafazquru’

- Suatu lafaz yang maknanya secara bahasa aneh/ganjil

Contohnya:....................................

- Pemindahan lafaz dari makna kebahsaan menuju makna istilah/syara’

Contohnya: lafaz shalat, zakat, puasa dan haji.

12. Jelaskan persamaan dan perbedaan antara ulama Hanafiyyah dengan Jumhur ulama

tentang lafaz mujmal!

Persamaan: sama-sama mempunyai petunjuk yang tidak jelas.

Perbedaan: Mujmal menurut ulama Hanafiyyah: globa/tidak terperinci.

Mujmal menurut ulama jumhur:

Suatu lafaz yang menunjukkan makna yang dimaksud tetapi petunjuknya tidak jelas.

13. Jelaskan pengertian lafaz mutasabih menurut ulama Hanafiyyah dan Ulama Syafi’iyah!

- Menurut ulama Syafi’iya: lemah (marju’)

- Menurut mutasabih: makna yang tidak jelasbaik dari syra’, Al-Qur’an maupun sunnah.

14. Adakah lafaz mutasabih dalam nash hukum? Mengapa !!

Ada karena mempunyai makna yang berkatian dengan penyerupaan Allah dengan

makhluknya.

15. Bagaimana pendapat Ibnu Hazm tentang lafaz mutasabih?

Tidak ada ayat-ayat mutasabih dalam Al-qur’an kecuali pada dua tempat yaitu:

- Huruf hija’iyyah pada awal surat

- Qasam Allah.

1. Jelaskan pengertian takwil baik secara bahasa maupun secara istilah!

- Dari sudut bahasa takwil mengandung arti At-tafdir (penjelasan, uraian) atau Al-Marja, Al-

Nahsir (kembali tempat kembali) atau Al-Laza (balasan yang kembali kepadanya)

- Menurut istilah (termonologi)

Kaum muhadits mendefenisikan takwil yaitu sejalan dengan defenisi yang di kemukakan

oelh ulama ushul fiqhi yaitu

- Menurut Wahab khalaf

Memalingkan lafaz dari zhahirnya,, karena ada dalil

- Menurut Aba Zahrah

Takwil Abu Zahrah: mengeluarkan lafaz dari artinya yang zhhir kepada makna lain, tetapi

bukan zhahirnya.

2. Apa yang anda ketahui tentang objek takwil? Jelaskan!

Objek takwil / kaidah takwil merupakan landasan kaidah-kaidah syara’ yang berdiafat umum

atau kaidah-kaidah fiqih yang berguna untuk menentukan ketetapan hukum permasalahan

furu’ selain itu takwil juga tidak menyangkut hukum-hukum agama pentig lainnya yang

mudah ataupun sulit untuk dipahami yang merupakan dasar-dasar syariat.

3. Jelaskan dalil-dalil penguat takwil dan berikan contohnya!

- nash yang diambil dari Al-Qur’an dan As sunnah

- Ijma’

- Kaidah-kaidah umum syariat yang diambil dari Al-Qur’an dan sunnah

- Kaidah-kaidah fiqih

- Hakikat kemaslahatan umum

- Adat yang di ucapkan dan diamalkan

- Hikmah syari’at atau tujuan syari’at itu sendiri

- Qiya’

- Akal yang meruapakan sumber permbicaraannya segala sesuatu.

- Kecenderungan memperluas pematokan hukum untuk berbagai tujuan

Contohnya:

...................................................................................................

4. Apakah dalil penguat takwil diharuskan Qath’i? Jelaskan!

Tidak karena takwil itu merupakan perubahan arti untuk membatasi maksud syara’ dengan

dalil sahih, baik yang qathi maupun yang zhanni.

5. Jelaskan maksud dari ungkapan bahwa takwil dihasilkan dari perubahan makna bukan

perubahan lafaz

Bila suatu syariat memakai bahasa untuk mengngkapkan maksudnya dasar uumu yang

dipakainya adalah yang sesuaidenganbunyi bahasa yang mempunyai kajian khsusu. Setiap

nash dalam syari’at atau undang-undang harus dipahami berdasarkan hakikat maknanya yang

mutlak yang berasal dari bahasa itu sendiri. Jadi..............

Barang siapa berpegang teguh kepda suatu dasar, tidak diminta untuk menegakkan arti dalil

sesuai dengan pemahaman nash atau mengatasinya sesuai dengan maksud syariat.

6. Apakag yang di maksud landasan takwil? Jelaskan!

Mengamalkan dalil sesuai konteks bahasanya dan mengambil nash hukumnya maksudnya

takwil itu mencakup berbagai kemungkinan yang berasal dari akal. Bukan bersumber dari

bahasa, karena takwil itu mengubah arti sesuai dengan kebutuhan bahasa takwil itu tidak

akan ada kecuali dengan dalil.

7. Sebutkan persyaratan dari takwil!

- Dasar umum yang ditetapkan para ulama untuk menetapkan adanya takwil berasal dari teks

bahasa dan uslub-uslubnya. Yang menjaga agar istihad dan raya’ tidak menjadi sesat.

- Para ulama juga mewajibkan agar mengamalkan syariat sesuai dengan zahir ayat sehingga

terdapat isyarat untuk menggunakan takwil

- Sesungguhnya syarat-syarat takwil itu di ambil dri teks pembinaan syariat Islam yang ada

dan maksud syara’

8. Berikan contoh hukum yang dihasilkan melalui takwil, berikut dalil pengambilannya!

Menafwilkan kisah-kisah yang ada dalam Al-Qur’an dengan menguabah arti yang menjadi

fiksi (yang tidak terjadi)

....................................................................................................................

9. Bagaimana pandagan para ulama tentang takwil Ba’id? Jelaskan!

Mereka berbeda pendapat dalam penetapannya, ada yang berpendapat bahwa sebagian takwil

itu ba’id, karena di katakan jika persyratan tak dapat dipenuhi dalam suatu penakwilan, juga

jika tidak ada penyimpangan dari persyaratan itu maka takwil itu ditolak.

Tetapi sebagian lagi menilai bahwa takwil seperti itu di katkan qarib dan sahih. Karena

takwil seperti itu didasarkan pada maksud kebutuhan mendesak yang merupakan hikmah di

syaria’atkan nash.

10. Bisakah mengambil istinbath melalui takwil di dasarkan ada ijma’? Jelaskan!

Bisa karena kajian istihad dengan ra’ya dan takwil harus sesuai dengan persyaratannya, tidak

hanya sebatas mengambilan istinbath berdasarkan pada bahasa yang mampu menghasilakan

arti yang tercakup dalam arti lafaz tersebut.

Selain itu, bisa juga dengan mendasarkan pada pengenalan syariat dan adatnya.

1. Jelaskan defensisi khas menurut para uama ushul dan terangkan maksudnya!

- Menurut ulama syafi’iyah defenisi khas adalah:

Artinya: “ Suatu lafaz yang dipasangkan pada satu arti yang sudah di ketahu (ma’lim) dan

menunggal”.

- Sedangkan menurut Al-Bazdawi defenisi khas adalah:

Artinya: “Setiap lafaz yang dipasangkan pada satu arti yang menyendiri dan terhindar dari

makna yang lain yang mustarak”.

- Dengan adanya perbedaan pendapat dalam meberikan defenisi khas namun pada hakikatnya

defenisi tersebut mempunyai pengertian yang sama. Jadi adapun maksud dari para ulama

tersebut adalah:

- Syafi’iyah: mengeluarkan lafaz mutlak dan mustarak dari bagian lafaz khash, dan bukan

pula bagiandari lafaz ‘amm.

- Al-basdawy: cara penunjukkan lafaz atas satu arti ini bisa dalam berbagai bentuk, yaitu

bentuk genius, seperti lafaz insanuh dipasangkan pada hewan yang berpikir atau bentuk

spesies (Nau’un), seperti kata laki-laki dan wanita, atau berbentuk indovidual yang berbeda-

beda tetapi terbatas, seperti bilangan angka-angka(3,5,160 dan seterusnya).

2. Bisakah lafaz khash di jadikan hajjah dalam syari’at Islam?

(Bisa)

3. Berikan contoh satu ayat yang di dalamnya mengandung lafaz khash dan jelaskan!

......................................................................................

Penjelasan:

- Ayat ini mengandung pengertian khash, yang tidak mungkin mengandung arti kurang atau

lebih dari makna yang di kehendaki oleh lafaz itu sendiri, yaitu tiga. Dan termasuk lafaz-

lafaz khash, sehingga kehujjahannya terdapat padaarti yang diperuntukkkan baginya yang

bersifat qari’iyah, karena tidak ada dalil yang memalingkan dari masalah hakikinya.

4. Tuliskan sebuah hadits yang di dalamnya mengandung kalimat khash!

.....................................................

5. Jelaskan sikap golongan Hanafiyyah terhadap lafaz khash!

- Mereka menetapkan bahwa lafazh itu tidak memerlukan penjelasan lain, sehingga dalil

mengambil hukum dari satu dialah khash, mereka tidak mengambil hadis-hadis yang

berhubungan dengan penjelasan lafaz khash sebagai pembantu untuk penjelasannya.

- Karena mereka menyatakan bahwa lafaz khash Al-Qur’an itu Qathi dialahnya dan tidak

memerlukan penjelasan (bayan) maka setiap perubahan hukum dengan nash yang lain

dipandang sebagai penghapusan hukum, bukan penjelasan.

6. Mungkinkah suatu lafaz yang mengandung lafaz khash mengandung perubahan makna?

Jelaskan pandangan ulama jumhur!

Ia berpendapat bahwa sekalipun lafaz khash itu dialahnya qath’i namun tetap mempunyai

kemungkinan perubahan makna soal wadhahnya.

7. Mengapa golongan hanafiyyah tidak menganggap bahwa tuma’ninah sebagai salah satu

rukun sholat?

Karena menurut mereka tuma’ninah itu bikan syarat sah solat. Seandaninya tuma’ninah itu

syarat sah solat, berarti merupakan penambahan atas lafaz khash Al-Qur’an yang jelas

dengan sendirinya, hal itu termasuk penambahan khabar ahad dan berarti sebagai nasakh,

sedangkan nasikh (peghapus) harus sama kekuatan dialahnya dari segi wurud dengan

mansuknya. Padahal hadits ahad tersebut tidak sama dengan kekuatan khash Ak-Qur’an yang

qath’i, sehingga mereka tidak mesyaratkan tuma’ninah sebagai syara’ ruku’

8. Bagaimanakah alasan ulama safi’iyah yang menganggap bahwa tuma’ninah sebagai salah

satu rukun shalat?

Golongan syafi’iyah memandang bahwa lafaz khash itu mempunyai lemungkinan adanya

penjelasan atau peruabahan, maka dari segi ini mereka memandang lafaz khash itu sebagai

lafaz mujmal. Oleh sebab itu mereka menerima kemungkinan adanya penambahan atas lafaz

khash yang terdapat dalam Al-Qur’an dengan hadist ahad yang merupakan penjelasannya.

Maka menurut golongan ini tuma’ninah yang diisyaratkan oleh hadits tersebut merupakan

penjelasan terhadap ayat Al-Qur’an dan termasuk fardh dalam ruku’

9. Apakah perbedaan antara khash dengan muqayad?

Lafaz khash adalah: suatu lafaz yang mengandung satu pengertin secara tunggal

Sedangkan muqayad adalah suatu lafaz yang menunjukkan hakikat sesuatu yang di batasi

dengan suatu pembatasan yang mempersempit keluasan artinya.

10. Sebutkan macam-macam lafaz khash!

- Mutlaq

- Muqayyad

- Amr

- Nahyi

1. Jelakan pengertian lafaz ‘amm!

Suatu lafaz yang menunjukkan satu makna yang mencakup seluruh satuan yang tidak

terbatas dalam julah terentu karena mempunyai tingkat yang luas serta menjadi ajang

perdebatan pendapat ulama dalam menetapkan hukum, dilain pihak, sumber hukum Islam

pun, Al-Qur’an dan sunnah, dalam banyak hal memakai lafaz umum yang bersifat universal.

2. Jelaskan, kapan suatu lafaz bisa dikatakan ‘amm dan bedakan dengan muthlaq?

Jika suatu lafaz ‘amm yang disertai qarinah (indikasi) yang menunjukkan penolakan adanya

taksis adalah Qath’i dialah.

Suatu lafaz jika dalam keadaan mutlak, maka menunjukkan pada maknanya yang hakiki,

yakni mutlak. Begitu pula lafaz ‘amm yang mutlak dan suatu indikasi tentang kekhususannya

menunjukkan pada makna umum, dan tidaklah berubah dari maknanya yang hakiki, kecuali

dengan dalil.

3. Apakah para ulama sepakat tentang dialah lafaz ‘amm?

Ia, sepakat

4. Berikan contoh-contoh ayat yang didalamnya mengandung kalimat ‘amm dan jelaskan!

........................................................................................................

Artinya:

“Dan Allah menghalalkan (menikah) selain itu (yang telah disebut)”.

Maksudnya:

Wanita ang dilarang di nikahi adalah bibinya baik dari pihak ayah maupun ibu karena lafaz

‘amm Al-Qur’an adalah Zhanni ia tidak selamanya menjadikan khabar ahad namun kadang-

kadang mentaksis lafazh ‘amm Al-Qur’an.

.....................................................................................

Maksudnya:

Tidak halal di makan sembelihan tanpa disertai dengan ucapan bismillah karena termaksud

perbuatan dosa.

5. Berikan contoh lafazh ‘amm yang ada dalam hadis!

........................................................................................

6. Bagaimana pendapat golongan Hanafi tentang ‘amm?

Mereka menetapkan bahwa lafazh ‘amm itu, kehendak makna umumnya jelas, tegas dan

tidak memerlukan penjelasan. Oleh karena itu Hanafiyah tidak mewajibkan tertib dalam

berwudhhu’.

7. Apakah jumhur ulama sependapat dengan golongan Hanafi tentang ‘amm?

Tidak

8. Bolehkah lafaz ‘amm yang Qath’i di taksis dengan dalil yang zhanni, terangkan? Boleh

Karena apabila pada awalnya di masuki tekhsis, maka dilalahnya zhanni, sebab

sesungguhnya suatu lafaz apabila dipasangkan (di wadha’kan) pada suatu makna, maka

makna itu berketetapan yang pasti.

9. Bolehkah seorang muslim memakan daging hewan yang di sembelih tanpa menyebut

bismillah terlebih dahulu? Jelaskan berdasarkan pendapat kedua golongan!

- Menurut Hanafiyyah sembelihan tanpa di sertai dengan ucapan bismillah tidak halal di

makan (Al-Qur’an:21).

- Menurut Imam Malik: kabar ahad yang dapat mentaksis lafaz ‘amm Al-Qur’an ialah khabar

ahad yang di dukung oleh perbuatan penduduk madinah/dengan Qiyas.

10. Jelaskan maksud dan kaidah!

........................................................................

Artinya:

“Tidak ada (lafaz) yang umum kecuali sudah ditaksis)”.

Penjelasan maksudnya:

Dialah ‘amm yang mempunyai zhanni, dillah ‘amm termaksud bagian dilalah zahir, yang

mempunyai kemungkinan ditaksis dan kemungkinan ini pada lafaz ‘amm banyak sekali.

Selama kemungkinan tetap ada, maka tidak dapat di benarkan menyatakan bahwa dilalhnya

qath’i. Karena dalam Al-Qur’an semua lafazs umum itu ada taksisnya, kecuali fieman Allah

SWT.

1. Jelaskan pengertian Amr, baik dari segi bahasa maupun istilah!

Lafaz yang menunjukkan tuntutan dari atasan kepada bawahannya untuk mengerjakan suatu

pekerjaan.

2. Apa yang anda ketahui bentuk-bentuk Amr, jelaskan !

- Thalab (tuntutan) di karenakan Amr itu secara hakikat menunjukkan wajib dan tidak bisa

berpaling pada arti lain kecuali bila ada karinah.

- Nadb: mayoritas kaum muslimin dalam melakukan jual beli (tidak di persaksikan.

- Wajib dan nadh dikarenakan amr itu musytara.

- Amr itu maknanya bergantung pada dalil yang menunjukkan maksudnya .

3. Bagaimana pengaruh Qarinah terhadap amar?

Qrinah dapat mengubah hakikat arti amar itu.

4. Apakah seiap amr mengandung arti wajib? Jelaskan!

Ia karena amr itu pada prinsipya menunjukkan wajib dan tidak bisa beruabah, kecuali ada

qarinah.

5. Berikan contoh ayat yang mengandung amr wajib!

...........................................................

Artinya:

“Dirikanlah olehmu shalat dan tunaikanlah zakar”.

6. Apakah amr bisa berarti anjuran? Berikan contohnya!

Bisa.

...........................................

Artinya:

“Barang siapa di antara kamu yang menyaksikan bulan maka berpuasalah”.

7. Jelaskan apakah amr itu harus di laksanakan secara berulang-ulang ataukah cukup sekali

saja?

Pabila perintah tersebut tidak bisa di laksanakan, keculi satu kali saja, maka yang sekali

merupakan hal pokok dalam melaksanakan hakikat perintah. Namun, yang sekali bukan

berarti petunjuk dari sighat amar, melainkan untuk melaksanakan hakikat dari amr tersebut.

8. Mengapa ibadah haji hanya di wajibkan sekali dalam seumur hidup?

Karena suatu perintah tidak wajib di lakukan berulang kali kecuali ada dalil untuk itu. Pada

prinsipnya suatu perbuatan telah terwujud bila perbuatan yang di perintahkan di lakukan,

meskipun di lakukan satu kali.

9. Jika ada kalimat yang menunjukkan amr, apakah mengharuskan agar di laksanakannnya

secara langsung atau bisa ditrunda?

Amr tidak menuntut untuk dilaksanakan secara langsung atau di tunda-tunda karena jika di

laksanakan secara langsung harus berdasarkan ijma’ begitu pula jika di laksanakan secara

menunda-nunda adalah tambahan dan sigat amr yang mutlak menurut bahasa.

Ushul Fiqih

Dalil yang bersifat menyeluruh itu di sebut pula Qaidah Ushuliyyah dengan demikian yang

dimaksud dengan qaidah ushuliyyah sejumlah peraturan untuk menggali hukum. Qaidah

Ushuliyyah itu umumnya berkaitan dengan ketentuan dalalah lafazh dan kebahasan

Ushul Fiqih

1. Jelaskan pengertian Qaidah Ushuliyyah!

Dalil yang bersifat menyeluruh itu di sebut pula Qaidah Ushuliyyah dengan demikian yang

dimaksud dengan qaidah ushuliyyah sejumlah peraturan untuk menggali hukum. Qaidah

Ushuliyyah itu umumnya berkaitan dengan ketentuan dalalah lafazh dan kebahasan.

2. Bagaimana hubungan Qaidah Ushuliyyah dengan Qaidah Fighiyah?

Sama-sama sebagai alat untuk menggali ketentuan hukum yang terdapat dalam bahasa

(wahyu) itu.

3. Bagaimana peran dan urgensi Qaidah Ushuliyyah dalam pengembangan hukum Islam?

Qaidah ushuliyyah itu umumnya berkaitan dengan ketentuan dilalah lapaz atau kebahasan

atau yang berkaitan dengan bahasa. Dalam pada itu, sumber hukum adalah wahyu yang

berupa bahasa. Oleh karena itu, Qaidah Ushuliyyah berfungsi sebagai alat untuk menggali

ketentuan hukum yang terdapat dalam bahasa (wahyu itu). Menguasai Qaidah Ushuliyyah

dapat mempermudah Faqih untuk mengetahui hukum Allah dalam setiap peristiwa hukum

yang dihadapinya.

4. Bagaimana hubungan dalil juz’i dengan dalil kulli?

Sama-sama mempunyai hubungan yaitu nasakh.

5. Sebutkan 3 Qaidah Ushuliyyah? Jelaskan!

- ‘Amm ialah: suatu lafaz yang menunjukkan satu makna yang mencakup seluruh satuan

yang tidak terbatas dan jumlah tertentu.

- Amr ialah: lafaz yang menunjukkan tuntutan dari atasan kepada bawahannya untuk

mengerjakan suatu pekerjaan (perintah).

- Nahl (larangan) yaitu: larangan melakukan suatu perbuatan dari pihak yang lebih tinggi

kebudayaannya kepada pihak yang lebih rendah tingkatannya.

1. Jelaskan pengertian Mujmal dan Mubayyah!! Beri contoh-contohnya!

- Mujmal merupakan suatu lafaz yang sulit dipahami kecuali ada penjelasan langsung dari

yang menyampaikan lafaz tersebut

Contohnya: lafaz Quru’ bisa berarti suci dari haid.

- Mubayyah merupakan lafaz yang telah jelas maknanya sejak awal pengguannya sehingga

tidak membutuhkan penjelasan dari lafaz lain.

Contohnya:

............................................................................................

2. Jelaskan pengertian zhahir dan muawwah! Beri contoh-contonya!

- Zhahir adalah: suatu lafaz yang menunjukkan suatu makna dengan rumusan lafaz itu sendiri

tanpa menunggu qarinah yang ada di lyar lafah, namun mempunyai kemungkinan di taksis,

ditakwildan di nasakh.

Contohnya:

......................................................................................

Artinya: “Dan Allah telah mengahalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.

- Mu’awwal adalah: lemah (marju) atau memindahkan sesuatu perkataan dari makna yang

terang kepada makna yang tidak terang.

Contohnya:

...................................................

Artinya: “...................Atau darah yang mengalir”.

3. Bagaimana dasar pemikiran yang dipakai para ulama uzhul dan membagi dialah lafaz!

Yaitu!

- Golongan Hanafiyah yang menbagi lafaz dari segi kejelasan terhadap makna dalam 4

bagian, yaitu: zahir, nash mufassar dan muhkam. Sedangkan dari ketidak jelasannya, mereka

menjadi 4 macam pula yaitu: Khafi, musykil, mujmal dan mutasyabina.

- Golongan jumhur dari kalangan mutakallimin di pelopori oleh Asy-Syafi’i yang membagi

lafaz dari segi kejelasannya menjadi 2 yaitu: Zhahir dan nash. Sedangkan dari segi ketidak

jelasannya di bafi menjadi2 macam juga yaitu: mujmal dan mutasyabih.

4. Terangkan pemabagian tingkatan dialah lafaz dari segi kejelasannya menurut ulama

Hanafiyyah!

- Zhahir: sesuatu yang dapat di ketahui maksudnya dari pendengaran itu sendiri tanpa harus

dipikirkan lebih dahulu.

- Nash menurut bahasa adalah: raf’u Asy-Sya’i / munculnya segala sesuatu yang tampak,

sedangkan menurut istilah: suatu lafaz yang maknanya lebih jelas dari pada zahir bila ia

bandingkan dengan lafaz zahir.

- Mufassa: lafaz yang menunjukkan suatu hkumdengan petunjuk yang tegas dan jelas

sehingga petunjuknya itu tidak mungkin detakwil/detaksis.

- Muhkam:suatu lafaz yang menunjukkan makna dengan dialah tegas dan jelas serta Qath’i.

5. Terangkan pembagian tingkatan dialah lafaz dari segi kejelasannya menurut ulama

Safi’iyyah ! yaitu:

- Zhahir dan nas. Baginya zahir dan nash ini adalah dua nama (lafaz) untuk satu arti yaitu:

suatu kitab yang dapat di ketahui hukum yang dimaksudnya. Pada perkembangan selanjutnya

pengertian masing-masingnya di bedakan.

- Nash adalah suatu lafaz yang tidak mempunyai kemungkinan ditakwil sedang zhahir

mempunyai kemungkinan untuk ditakwil

6. Terangkan pembagian tingkatan dialah lafaz dari segi ketidak jelasannya menurut ulam

Hanafiyyah!

- Khafi’i menurut bahasa adalah: tidak jelas / tersembunyi sedangkan menurut istilah, seperti

yang dikemukakan oleh Ad-Dabusi adalah suatu lafaz yang maksudnya menjadi tidak jelas

karena hal baru yang ada diluar lafaz itu sendiri.

- Musykil menurut bahasa ialah: sulit/ suatu yang tidak jelas perbedaannya. Sedangkan

menurut istilah seperti pendapat As-sarakhfi ialah: suatu lafaz yang tidak jelas artinya.

- Mujmal menurut bahasa adalah: global/tidak terperinci. Menurut istilah adalah: lafaz yang

tidak bisa dipahami maksudnya kecuali bila ada penafsiran dari pembuat mujmal.

- Mutasyabih menurut bahasa adalah sesuatu yang mempunyai kemiripan atau simpang siur.

Sedangkan menurut istilah: berdasarkan pendapat sebagian ulama adalah: suatu lafaz yang

maknanya tidak jelas dan juga tidak ada penjelasan dari syara’ baik Al-Qur’an maupun

SOAL MID SEMESTER Kelas / Semester : III / II

A. Pilihlah salah satu jawaban yang benar pada soal dibawah ini !

1. Mana yang merupakan peristiwa alam ?
a. Mobil maju b. Air mengalir c. Bel berbunyi

2. Kemana Irma dan ibunya semalam pergi ?
a. ke toko buku b. ke pasar c. ke kebun

3. Susunlah kata berikut ini menjadi kalimat yang baik : juga - pelajaran - ia – buku – membeli.
a. Ia juga membeli buku pelajaran c. Buku pelajaran ia membeli juga
b. Membeli buku pelajaran ia juga

4. Kegiatan apa yang dilaksanakan kamu di SD setiap hari Jum’at.
a. Latihan Pramuka b. Latihan Menari c. Latihan Mengaji

5. Cara membaca puisi dengan gerak dan gaya disebut ……..
a. Proklamasi b. Deklamasi c. Diskusi

6. PMR adalah singkatan dari ……..
a. Palang Merah Rakyat c. Penggalang Merah Remaja
b. Palang Merah Remaja

7. Tanda baca apa yang digunakan untuk memenggal suku kata ….
a. Tanda hubung b. Tanda koma c. Tanda titik

8. Sebuah cerita berbentuk dialog atau percakapan yang dibuat untuk dipentaskan adalah …….
a. Dongeng b. Puisi c. Drama

9. Buku adalah ……
a. Gudang ilmu b. Teman belajar c. Perpustakaan

10. ……….. kamu akan membuang sampah ini ?
Kata tanya yang tepat untuk kalimat diatas adalah ………
a. Dimana saja b. Dimana c. Kemana

edy mahyudin

(Perbandingan antara Metode Hanafiyyaħ dan Metode Syâfi'iyyaħ)

Pendahuluan
Berbagai kitab ushul al-fiqh, secara garis besarnya, melakukan bahasan terhadap empat topic utama, yaitu tentang hukum, sumber-sumber hukum, metode istinbath dalam menemukan hukum dari sumbernya, dan tentang pelaku istinbath (mujtahid). Metode istinbath sendiri biasanya dilakukan dalam rangka menemukan petunjuk-petunjuk dalil yang terdapat dalam sumber hukum. Fokus utamanya adalah lafal atau shîghaħ yang mengandung dalil hukum (shîghaħ amr, nahy, 'umûm, khushûsh, zhâhir, mu`awwal, dan sebagainya).

Sementara cara penunjukan lafal terhadap makna, dalam terminologi ulama Ushul, biasanya dibatasi pada penunjukkan secara jelas dan tegas, secara isyarat, secara tidak langsung, dan secara kehendak syara' (الاقتضاء) yang terkandung di dalamnya. Makalah ini secara sederhana akan memberikan gambaran tentang persoalan dilâlaħ lafal terhadap hukum.

Pengertian Dilâlaħ al-Ahkâm
Kata dilâlaħ atau dalâlaħ (dengan jamak أَدِلَّة وأَدِلاَّء) merupakan mashdar dari kata دَلَّ-يَدُلُّ. Selain dua kata itu, akar kata ini juga memiliki mashdar lain, yaitu دَلاًّ ودُلولة. Ia merupakan sinonim dari kata انبسط, yang berarti membentangkan. Secara umum, dilâlaħ (دلالة) berarti "keadaan sesuatu yang jadi petunjuk guna mengtahui sesuatu yang lain". Kata sesuatu yang pertama disebut petunjuk (al-dâl), yaitu dalil-dalil hukum, dan yang kedua disebut dengan madlûl (yang ditunjuk; مدلول), yaitu hukum itu sendiri.

Walau pada awalnya, kata dalîl digunakan buat semua petunjuk, baik yang mengantarkan kepada ilmu maupun zhann (الظن). Tapi dalam kebiasaan ulama ushul, dalîl dibedakan dengan amârah (الأمارة), di mana dalîl digunakan buat mengantarkan kepada pengetahuan yang bersifat pasti (العلم). Sedang amârah digunakan buat mengantarkan kepada pengetahuan yang bersifat perkiraan (الظن). Berdasarkan hal itulah ulama ushul mendefinisikannya dengan "Sesuatu yang bisa mengantarkan kepada pemahaman yang benar dengan menggunakan penalaran rasional terhadap suatu berita".

Pemahaman yang benar itu bisa dilakukan dengan menggunakan analisa rasional semata (عقلي محض), atau dengan mengetahui pemahaman yang umum digunakan orang banyak (سمعي محض), atau dengan gabungan kedua cara tersebut. Dalam hal ini, sesuatu yang ingin dipahami itu adalah hukum.


Dilâlaħ Hukum dalam Pandangan Ulama Hanafiyyaħ
Ulama Hanafiyyaħ membagi dilâlaħ jadi dua, yaitu dilâlaħ lafzhiyyaħ (دلالة لفظية) dan dilâlaħ ghayr lafzhiyyaħ (دلالة غير لفظية). Pada dilâlaħ lafzhiyyaħ yang menjadi dalîlnya adalah lafal menurut zhahirnya. Sedang pada dilâlaħ ghayr lafzhiyyaħ bukan zhahir lafal itu sendiri. Dilâlaħ ghayr lafzhiyyaħ ini, di kalangan ulama Hanafiyyaħ, juga disebut dilâlaħ sukût (دلالة السكوت) dan bayân dharûraħ (بيان الضرورة). Dari dua bagian besar ini juga terdapat beberapa bagian kecil lain.

1. Dilâlaħ lafzhiyyaħ
Dilâlaħ lafzhiyyaħ, menurut ulama Hanafiyyaħ terbagi menjadi empat macam, sebagai berikut:

a. 'Ibâraħ al-nash (عبارة النص)
Dilâlaħ ini juga disebut dilâlaħ 'ibâraħ (دلالة العبارة). Secara istilahiy, al-Sarakhsiy mendefinisikannya dengan:

ما كان السياق لأجله ويعلم قبل التأمل أن ظاهر النص متناول له

Suatu lafal (yang dipahami) sesuai tujuannya, yang diketahui, tanpa harus melakukan penalaran, bahwa itu kandungan lafal tersebut secara zhahir.

Secara sederhana ia dapat diungkapkan bahwa makna yang dimaksud dari lafal itu dapat dipahami langsung darinya, apakah dalam bentuk penggunaan aslinya (ashl) atau menurut zhahir-nya (bukan ashl). Dengan kata lain, lafal itu dipahami apa adanya secara "tersurat". Sebagai contoh dapat dilihat dalam firman Allah dalam surat al-Nisâ' [4] ayat 3:

...فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع فإن خفتم ألا تعدلوا فواحدة...

Makna ashl ayat ini adalah "boleh mengawini perempuan sampai empat orang, bila terpenuhi syarat adil". Selain itu, ayat ini secara zhahir juga memberikan pemahaman bahwa perkawinan itu hukumnya mubâh. Meskipun sesungguhnya ayat itu bukan hanya bertujuan untuk itu.

Dalam hal kekuatannya, 'ibâraħ dalam bentuk nash lebih kuat dibanding 'ibâraħ dalam bentuk zhahir. Kalau terjadi perbedaan antara keduanya, apalagi pertentangan, maka yang "dimenangkan" adalah 'ibâraħ dalam bentuk nash, karena penunjukan lafal nash yang terkuat adalah terhadap maksudnya secara langsung (makna ashl-nya); bukan terhadap makna tidak langsung (zhahir). Meskipun makna zhahir ini juga jelas, tapi ia bersifat tidak langsung dan bukan maksud pokok dari lafal itu.

b. Isyâraħ al-nash (إشارة النص)
Selain disebut isyâraħ al-nash, kategori ini juga disebut dengan dilâlaħ al-isyâraħ (دلالة الإشارة). Menurut al-Sarakhsiy, ia adalah:

ما لم يكن السياق لأجله لكنه يعلم بالتأمل في معنى اللفظ من غير زيادة فيه ولا نقصان

Suatu pemahaman yang tidak langsung dituju oleh suatu lafal, tetapi diketahui lewat penalaran terhadap makna lafal itu, tanpa menambah atau menguranginya.

Hakikat isyâraħ al-nash adalah pemahaman yang diperoleh dari suatu lafal bukan berasal dari maksud ashl-nya. Artinya, selain memiliki makna ashl, lafal itu juga bisa memberikan makna lain, dan salah satunya adalah isyâraħ ini. Sebagai contoh adalah lafal المولود له yang terdapat dalam surat al-Baqaraħ [2] ayat 233:

...وعلى المولود له رزقهن وكسوتهن بالمعروف...

Menurut 'ibâraħ al-nash, ayat itu menegaskan bahwa si ayah atau suami wajib memberi nafkah dan pakaian kepada isterinya atau jandanya secara layak dalam masa 'iddah. Tapi dengan menggunakan lafal المولود له (secara bahasa berarti "anak bagi ayah"), maka hal itu memberikan isyarat bahwa "si anak dinasabkan kepada ayahnya"; bukan kepada ibunya. Makna yang terakhir inilah yang disebut dengan isyâraħ al-nash.

c. Dilâlaħ al-nash (دلالة النص)
Dilâlaħ al-nash (juga disebut dilâlaħ al-dilâlaħ; دلالة الدلالة) didefinisikan al-Sarakhsiy sebagai berikut:

ما ثبت بمعنى النظم لغة لا استنباطا بالرأي

Suatu pemahaman (terhadap suatu lafal) yang berasal dari kaidah kebahasaan, bukan didasarkan pada penalaran rasional .

Secara sederhana, ia berarti pemahaman "tersirat" terhadap suatu lafal "tersurat". Antara makna "tersirat" dengan makna "tersurat" itu memiliki hubungan yang sangat dekat. Oleh karena itu hukum yang berlaku bagi makna "tersurat" juga berlaku terhadap makna "tersirat". Dilâlaħ jenis ini juga terbagi menjadi dua macam.

1) Hukum yang diberlakukan terhadap makna "tersirat" itu lebih kuat daripada yang diterapkan terhadap makna "tersurat", karena 'illaħ yang terdapat padanya lebih kuat pula daripada yang dikandung makna "tersurat"-nya. Sebagai contoh adalah lebih "dilarang" memukul orang tua dibanding menyakiti hatinya (berkata kasar atau cis). Hal itu merupakan penerapan awlawiy terhadap makna "tersurat" ('ibâraħ al-nash) dari firman Allah dalam surat al-Isrâ` [17] ayat 23 berikut:

...فلا تقل لهما أف ولا تنهرهما وقل لهما قولا كريما

2) Hukum yang diberlakukan makna "tersirat" sama dengan hukum yang diterakpkan terhadap makna "tersurat" suatu lafal, karena antara keduanya memiliki 'illaħ yang sama kuat. Sebagai contoh adalah larangan ("tidak boleh") membakar atau memusnahkan harta anak yatim adalah sama dengan larangan memakannya. Keduanya didasarkan pada ayat 10 dari surat al-Nisâ' [4] berikut:

إن الذين يأكلون أموال اليتامى ظلما إنما يأكلون في بطونهم نارا وسيصلون سعيرا

d. Iqtidhâ` al-nash (إقتضاء النص)
Secara istilahiy iqtidhâ` al-nash (disebut juga dilâlaħ iqtidhâ`) didefinisikan al-Syasiy dengan:

زيادة على النص لا يتحقق معنى النص إلا به

Penambahan terhadap nash yang makna nash itu tidak akan menjadi benar, kecuali dengan penambahan itu.

Sederhananya dapat dikemukakan bahwa iqtidhâ` al-nash adalah makna atau lafal yang "tidak dapat tidak" harus ada untuk dapat memahami suatu kalimat secara lengkap. Makna atau lafal itu biasanya seperti "disengaja" tidak disebutkan dengan anggapan bahwa pendengar memahaminya dengan "mudah". Di dalam al-Qur'an, biasanya dikaitkan dengan ke-fashâhaħ-annya, hal itu banyak dijumpai, misalnya dalam surat Yûsuf [12] ayat 82 berikut:

واسأل القرية التي كنا فيها والعير التي أقبلنا فيها وإنا لصادقون

Ayat itu tidak lengkap kalau hanya dipahami dari lafal yang tersurat saja, sebab mustahil bertanya kepada kampung atau kafilah (keduanya merupakan kata benda abstrak). Ia baru lengkap kalau dalam kalimat itu (mesti) ditakdirkan ada lafal "penduduk" (أهل) pada kampung dan orang-orang pada kafilah. Dengan demikian, secara lengkap ayat itu berarti "tanyailah penduduk kampung tempat kami berada dan orang-orang dalam kafilah yang kami temui".

Contoh lain, yang ada relevansinya dengan hukum, adalah "pentakdiran" kata dosa atau tanggung jawab dalam perkataan Nabi:

عن ابن عباس عن النبي صلى الله عليه وسلم قال إن الله وضع عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه (رواه ابن ماجة)

Iqtidhâ` al-nash sendiri juga dapat dibedakan antara keharusan mentakdirkan kata dan bentuk kata yang ditakdirkan. Atas dasar keharusan mentakdirkan kata, iqtidhâ` al-nash terbagi menjadi tiga macam, yaitu:

1) Sesuatu yang harus ditakdirkan untuk kebenaran kalimat (صدق الكلام), seperti menakdirkan kata "sah" dalam hadis Nabi SAW berikut:

عن حفصة قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا صيام لمن لم يفرضه من الليل (رواه ابن ماجة)

2) Sesuatu yang harus ditakdirkan untuk kebenaran kalimat secara akal (صحة الكلام عقلا), seperti menakdirkan kata "orang" sebelum kata rombongan (ناديه) dalam firman surat al-'Alaq [96] ayat 17 (فليدع ناديه)

3) Sesuatu yang harus ditakdirkan untuk sahnya ucapan secara hukum (صحة الكلام شرعا), seperti mentakdirkan kata "diyat" (دية) setelah adâ` pada surat al-Baqaraħ [2]: 178 (فاتباع بالمعروف وأداء إليه بإحسان), karena sebelumnya disebutkan فمن عفي له من أخيه شيء. Lengkapnya potongan ayat pertama mesti dipahami "orang yang diberi maaf kepadanya (dari pelaksanaan qishâsh) maka ikutilah hal itu dengan patut dan berikanlah diyat kepadanya dengan cara baik-baik".

Sedang berdasar bentuk kata yang ditakdirkan, agar suatu lafal benar dan sah secara hukum, iqtidhâ` al-nash juga terbagi dua, yaitu:

1) Yang ditakdirkan adalah sebuah "kata", seperti kata sah dalam hadis:

عن عبادة بن الصامت أن الرسول الله صلى الله عليه وسلم قال لا صلاة لمن لم يقرأ بفاتحة الكتاب (رواه البخاري)

2) Yang ditakdirkan adalah satu "peristiwa hukum", seperti terjadinya "jual beli" lebih dulu dalam ungkapan seseorang: "Wakafkanlah kebunmu itu atas nama saya dengan bayaran 10 juta rupiah".

Derjat kekuatan dilâlaħ lafzhiyyaħ menurut ulama Hanafiyyaħ ini sesuai dengan urutan yang telah disebutkan. Artinya, kalau 'ibâraħ al-nash bertentangan dengan isyâraħ al-nash, maka yang "dimenangkan" adalah 'ibâraħ al-nash, demikian seterusnya. Hal itu misalnya terlihat pada firman Allah dalam surat al-Baqaraħ [2] ayat 233 di atas (kewajiban nafkah bagi suami terhadap anaknya). Berdasar 'isyâraħ al-nash, ayat ini menunjukkan bahwa nasab anak adalah kepada ayahnya. Konsekwensinya, ayah lebih berhak menerima pemberian dari anaknya. Tapi hal itu "bertentangan" dengan maksud ('ibâraħ al-nash) hadis Nabi yang menyuruh berbuat baik kepada ibu sebanyak tiga kali, kemudian (terakhir) baru kepada bapak (hanya satu kali). Dengan 'ibâraħ al-nash hadis ini, "keutamaan" ayah dengan pemahaman isyâraħ al-nash ayat di atas menjadi tidak signifikan lagi.

Konsisten dengan pembagian ini, Ulama Hanafiyyaħ menetapkan bahwa pembunuh seorang mukmin secara sengaja tidak dikenai had duniawi apapun, seperti disebutkan dalam surat al-Nisâ' [4] ayat 93:

ومن يقتل مؤمنا متعمدا فجزاؤه جهنم خالدا فيها وغضب الله عليه ولعنه وأعد له عذابا عظيما

'Ibâraħ al-nash ayat itu menegaskan bahwa ia hanya dikenai azab ukhrawi, dan ia lebih kuat daripada dilâlaħ nash dalam surat al-Nisâ' [4]: 92

...ومن قتل مؤمنا خطأ فتحرير رقبة مؤمنة ودية مسلمة إلى أهله...

Karena isyâraħ al-nash berasal dari kaidah lafal (kehendak lafal), sedang dilâlaħ al-nash diambil dari mafhûm lafal, dan ia lebih lemah dari pada kaidah lafal. Sedang jumhur ulama, dengan menggunakan mafhûm al-awlawiy, menetapkan diyat bagi pembunuh mukmin secara sengaja. Malah mestinya dikenai had lebih berat daripada yang membunuh secara tersalah.

Wahbah al-Zuhayliy, dengan menggunakan metode ulama Hanafiyyaħ yang juga konsisten, mengatakan bahwa pembunuh seorang mukmin secara sengaja harus dikenai had qishâsh. Meskipun isyâraħ al-nash dalam surat al-Nisâ' [4] ayat 93 memberikan pemahaman bahwa mereka tidak dikenai diyat. Tapi ia bertentangan dangan 'ibâraħ al-nash dalam surat al-Baqaraħ [2]: 178 (semua pembunuhan (sengaja) dikenai qishâsh).

يا أيها الذين آمنوا كتب عليكم القصاص في القتلى الحر بالحر والعبد بالعبد والأنثى بالأنثى...

Oleh karena itu 'ibâraħ al-nash lebih didahulukan daripada isyâraħ al-nash, karena merupakan kehendak ashl lafal. Sedang 'ibâraħ nash, walau juga kehendak nash, tapi bukan kehendak ashl lafal itu.

2. Dilâlaħ ghayr lafzhiyyaħ
Dilâlaħ ghayr lafzhiyyaħ dalam pandangan ulama Hanafiyyaħ juga terbagi menjadi empat macam, yaitu:

a. Kecocokan maskut 'anh dengan manthûq (ما يلزم منطوقا).
Secara sederhana Ibn Sulayman mengartikannya dengan:

لازم مسكوت عنه لملزوم مذكور

Kecocokan antara yang tidak disebutkan dengan yang disebutkan.

Contohnya adalah tentang kewarisan ibu dan ayah. Dalam surat al-Nisâ' [4] ayat 11 disebutkan:

... فإن لم يكن له ولد وورثه أبواه فلأمه الثلث...

'Ibâraħ nash ayat ini menyabutkan bahwa kalau ahli waris hanya ayah dan ibu, maka bagian ibu adalah ⅓. Ayat ini tidak menyebutkan bagian ayah. Tapi "diamnya" ayat itu dianggap sudah menyebutkan bagian ayah, yaitu ⅔, yang diperkuat bahwa ayah menjadi 'ashabaħ bila tidak bersama anak laki-laki.

b. Dilâlaħ diamnya seseorang (دلالة حال السكوت).
Seseorang yang dimaksud di sini adalah yang karena jabatan atau tugasnya mestinya memberikan tanggapan terhadap yang dihadapinya. Apapun reaksi yang diberikannya, berbicara atau diam, sudah dianggap menjelaskan. Ibn Sulayman mendefinisikannya sebagai berikut:

دلالة حال الساكت الذي وظيفته البيان مطلقا

Dilâlaħ (penunjukan) diamnya seseorang yang fungsinya adalah untuk memberikan penjelasan.

Dalam hal ini, ketika Rasulullah SAW (yang berfungsi sebagai "penetap hukum") diam saat sahabat melakukan sesuatu, dianggap sebagai persetujuannya atau sebagai petunjuk bolehnya hal itu dikerjakan.

c. Ibarat dari diamnya seseorang (اعتباره).
Maksudnya adalah:

اعتبر من سكوت الساكت دلالة كالنطق التغرير

Menganggap diamnya seseorang sebagai berbicara untuk menghindari penipuan.
Ketika seseorang diam, ada dua kemungkinan yang terjadi, Pertama, ia setuju dengan yang terjadi atau dikemukakan orang lain. Kedua, ia sedang berpikir tentang yang terjadi atau dikatakan orang. Karenanya, tidak bisa secara tergesa-gesa dianggap sebagai persetujuan.

Kalau diamnya seseorang pada poin b di atas dianggap sebagai petunjuk bahwa ia memahami persoalan yang tidak dikomentarinya. Sedang pada poin c ini diamnya itu belum dianggap memadai, masih dibutuhkan "penjelasan" tambahan darinya, meskipun juga hanya dengan diam. Misalnya, diamnya seorang wali ketika anak kecil yang ada di bawah perwaliannya melakukan tindakan hukum berkaitan dengan hartanya, seperti jual beli. Jual beli itu baru dianggap sah kalau si wali memberikan izin, tidak hanya diam. Karena jual beli itu sudah berlangsung sebelum ada izin dari wali (ia diam), maka jual beli itu dapat dianggap sah kalau si wali tetap juga diam.

d. Efisiensi pembicaraan dalam angka (ضرورة طول)
Secara umum hal ini diungkapkan sebagai berikut:

دلالة السكوت على تعيين معدود تعورف حذفه ضرورة طول الكلام بذكره

Dilâlaħ sukut yang menyatakan sesuatu yang berbilang namun telah biasa dibuang untuk menghindarkan panjangnya ucapan kalau disebutkan.

Misalnya penyebutan 101 dirham dalam bahasa Arab yang lazim adalah مائة ودرهم (secara letter late berarti seratus dan satu dirham). Padahal mestinya adalah مائة من الدراهم ودرهم (berarti seratus dari dirham dan satu dirham). Tapi dengan penggunaan bahasa yang lazim itu (lebih hemat), semua orang sudah tau maksudnya, sama juga dengan penyebutan 1945 dengan sembilan belas empat lima, dalam bahasa Indonesia.


Dilâlaħ Hukum dalam Pandangan Ulama Syâfi'iyyaħ
Dalam pandangan ulama Syâfi'iyyaħ dilâlaħ juga terbagi dua, yaitu dilâlaħ manthûq dan dilâlaħ mafhûm.

1. Dilâlaħ manthûq
Secara sederhana, manthûq (منطوق) berarti "arah pembicaraan pertanda hakikat lafal" (وجوه مخاطباته علم حقيقة ألفاظ). Sedang secara istilah dilâlaħ manthûq diartikan dengan:

ما دل عليه اللفظ في محل النطق

Suatu makna atau pemahaman yang ditunjukkan lafal dalam ucapan.

Sederhananya dilâlaħ manthûq adalah memahami hukum secara tersurat dari satu lafal. Misalnya pengharaman seorang laki-laki menikahi anak tiri yang di bawah asuhannya, dalam firman Allah surat al-Nisâ' [4]: 23

...وربائبكم اللاتي في حجوركم من نسائكم اللاتي دخلتم بهن....

Dilâlaħ manthûq juga dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu manthûq sharîh (منطوق صريح) dan ghayr sharîh (منطوق غير صريح). Penun-jukan pada manthûq sharîh berasal dari dua hal, yaitu dari dilâlaħ wadh'iyyaħ muthâbiqiyyaħ dan dilâlaħ wadh'iyyaħ tadhammuniyyaħ. Sedang penunjukan pada manthûq ghayr sharîh berasal dari dilâlaħ wadh'iyyaħ iltizâmiyyaħ.

Ketiga dilâlaħ itu merupakan penunjukan yang berasal dari lafal, kata atau suara (dilâlaħ lafzhiyyaħ; دلالة لفظية) yang diketahui melalui penggunaan istilah-istilah khusus yang sama-sama dipahami dan digunakan untuk maksud tertentu. Hanya saja ketiganya berbeda dalam tujuan dan keutuhan penggunaan istilah khusus tersebut.

Pada dilâlaħ wadh'iyyaħ muthâbiqiyyaħ atau lebih lengkapnya adalah dilâlaħ lafzhiyyaħ wadh'iyyaħ muthâbiqiyyaħ (دلالة لفظية وضعية مطابقية) istilah itu digunakan untuk tujuannya yang utuh (tidak sepotong-sepotong). Misalnya, kalau penggunaan istilah "rumah" untuk bangunan yang terdiri dari tonggak, dinding, atap dan bagian-bagian lainnya.

Pada dilâlaħ wadh'iyyaħ tadhammuniyyaħ (دلالة لفظية وضعية تضمنية) istilah itu digunakan hanya untuk bagian tertentu dari makna sesungguhnya. Misalnya ketika yang tertinggal hanya dindingnya, tetap saja istilah "rumah" bisa digunakan untuknya, karena dinding merupakan bagian dari rumah.

Pada dilâlaħ wadh'iyyaħ iltizâmiyyaħ (دلالة لفظية وضعية إلتزامية) yang digunakan bukan istilah yang "sebenarnya", tetapi sesuatu yang berdekatan dengannya, seperti menggunakan istilah "singa" untuk "keberanian". Tapi dilâlaħ dalam bentuk ini bersifat "sangat kabur" dan tidak terbatas.

Karena pada dilâlaħ wadh'iyyaħ iltizâmiyyaħ ini penunjukannya terhadap maksud si pembicara "agak jauh" atau bersifat ambigu, maka ia memunculkan dua kemungkinan (pembagian manthûq ghayr sharîh), yaitu: Pertama, penunjukannya itu memang dimaksud oleh si pembicara, dan kedua, penunjukannya itu tidak dimaksud oleh si pembicara.

a. Dilâlaħ manthûq ghayr sharîh yang penunjukannya dimaksud pembicara
Jenis ini juga terbagi dua, yaitu dilâlaħ iqtidhâ` (دلالة الإقتضاء) dan dilâlaħ îmâ` (دلالة الإيماء). Dilâlaħ iqtidhâ` sama dengan iqtidhâ` al-nash yang dijelaskan ulama Hanafiyyaħ. Sedangkan dilâlaħ îmâ` (juga disebut al-tanbîh; التنبيه) adalah petunjuk yang mengisyratkan sesuatu.

Sebagai contoh adalah ketika seorang Arab pedesaan melaporkan bahwa ia telah menggauli isterinya di siang hari bulan Ramadhan, Nabi mengatakan "merdekakanlah budak". Dalam hal ini sifat yang dikaitkan dengan memerdekakan budak adalah "menggauli isteri di siang hari bulan Ramadhan"; bukan Arab pedesaan.

b. Dilâlaħ manthûq ghayr sharîh yang tidak dimaksud pembicara
Dilâlaħ jenis ini hanya terbatas pada dilâlaħ isyâraħ. Tentang hal ini, ulama Syâfi'iyyaħ juga memahaminya sama dengan isyâraħ al-nash yang popular di kalangan ulama Hanafiyyaħ.

2. Dilâlaħ mafhûm
Dilâlaħ mafhûm, seperti dikemukakan al-Subkiy adalah:

ما دل عليه اللفظ لا في محل النطق

Suatu makna yang ditunjukkan lafal bukan dalam ucapan.

Menurut Abu al-Hasan, seperti disebutkan oleh Ibn Qudamah, mafhûm itu identik dengan qiyâs. Sebab hakikat qiyâs adalah menghubungkan hukum sesuatu yang tidak disebutkan dengan hukum sesuatu yang disebutkan karena persamaan dalam maksud kedunya.

Substansi dari dilâlaħ mafhûm itu ada dua, yaitu: Pertama, "memperluas" makna atau hukum suatu lafal kepada sesuatu yang tidak disebutkan secara langsung (disebut mafhûm muwâfaqaħ; مفهوم موافقة). Kedua, membatasi pemberlakukan hukum itu hanya pada apa yang dikandung suatu lafal; dan tidak memberlakukannya sama sekali terhadap yang tidak disebutkannya (disebut mafhûm mukhâlafaħ; مفهوم مخالفة).

a. Mafhûm muwâfaqaħ
Secara definitive, mafhûm muwâfaqaħ berarti:

مفهوم الموافقة هو ما يفهم من الكلام بطريق المطابقة

Mafhûm muwâfaqaħ adalah sesuatu yang dipahami dari sebuah kalimat secara muthâbaqaħ.
Dari definisi di atas terlihat bahwa mafhûm muwâfaqaħ adalah mafhûm yang lafalnya menunjukkan bahwa hukum yang disebutkan dalam lafal juga diberlakukan terhadap yang tidak disebutkan lafal. Dari segi kekuatan pemberlakukan hukum, mafhûm muwâfaqaħ juga jadi dua, yaitu:

1) Mafhûm awlawiy
Mafhûm awlawiy (مفهوم أولوي) juga disebut fahw al-khithâb (فحو الخطاب), yaitu pemberlakukan hukum pada maskut 'anh lebih kuat daripada hukum yang diterapkan pada yang disebutkan lafal (manthûq), ditinjau dari alasan pemberlakuan hukum pada manthûq-nya. Contohnya perluasan larangan mengatakan "uf" atau "cis" kepada orang tua mencakup perbuatan yang menyakiti mereka secara fisik, berangkat dari surat al-Isrâ` [17]: 23 (...فلا تقل لهما أف...)

2) Mafhûm musawiy
Mafhûm al-musawiy (مفهوم المساوي), juga disebut lahn al-khithâb (لحن الخطاب), adalah pemberlakukan hukum secara sama terhadap yang disebutkan dan yang tidak disebutkan lafal, didasarkan pada kesamaan 'illaħ pada keduanya. Sebagai contoh adalah larangan membakar harta anak yatim adalah sama "kuatnya" dengan larangan memakannya. Padahal larangan "membakar" itu tidak disebutkan sama sekali oleh nash. Tapi 'illaħ-nya sama dengan "memakan", yaitu meniadakan, yang disebutkan dalam surat al-Nisâ' [4] ayat 10:

إن الذين يأكلون أموال اليتامى ظلما إنما يأكلون في بطونهم نارا وسيصلون سعيرا

Tentang kehujjahan mafhûm muwâfaqaħ, jumhur ulama sependapat bahwa ia bisa dijadikan sebagai hujjah. Tapi ulama Zhahiriyyah menolak kehujjahannya, sebagaimana mereka juga menolak kehujjahan qiyâs. Alasan mereka adalah karena keduanya (mafhûm muwâfaqaħ dan qiyâs) adalah "setali tiga uang".

Sedang ulama yang mengakui kehujjahan mafhûm muwâfaqaħ beralasan bahwa sudah menjadi kebiasaan dalam pemahaman ('urf bahasa Arab) kalau dikatakan kepadanya "Siapa yang mencuri tongkat seorang muslim, harus mengembalikannya", maka keharusan itu tidak dipahami terhadap tongkat saja, tetapi juga mencakup barang lain yang seharga dengan tongkat itu atau yang nilainya lebih tinggi.

Ulama yang mengakui kehujjahan mafhûm muwâfaqaħ inipun berbeda dalam hal sandaran pemberlakuan hukumnya menjadi dua golongan: Pertama, mengatakan bahwa sandarannya adalah qiyâs. Alasan mereka adalah bahwa keabsahan pemberlakukan hukum terhadap sesuatu yang tidak disebutkan (furû') nash adalah adanya kesamaan 'illaħ dengan yang disebutkan nash (ashl). Dan cara seperti itulah yang disebut dengan qiyâs. Sedang kalau 'illaħ pada furû' lebih kuat dari yang ada pada ashl, disebut dengan qiyâs jaliy. Kedua, ulama yang mengatakan bahwa sandarannya adalah semata-mata dilâlaħ lafal saja. Menurut mereka pada qiyâs disyaratkan harus ada 'illaħ yang betul-betul serasi antara ashl dan furû', sedang pada dilâlaħ lafal tidak diperlukan syarat itu sama sekali.

b. Mafhûm mukhâlafaħ
Menurut al-Jurjaniy, mafhûm mukhâlafaħ adalah:

أن يثبت الحكم في المسكوت على خلاف ما ثبت في المنطوق

Menerapkan hukum yang berbeda terhadap sesuatu yang disebutkan daripada hukum yang diterapkan pada sesuatu yang disebutkan.

Selain dengan pemahaman yang telah disebut di atas, mafhûm mukhâlafaħ juga bisa dipahami dengan: hukum yang diberlakukan secara mafhûm berbeda dengan hukum yang disebutkan secara manthûq. Mafhûm mukhâlafaħ juga terbagi menjadi beberapa bentuk, yaitu:

1) Mafhûm al-shifaħ (مفهوم الصفة)
Mafhûm sifat merupakan penunjukan lafal terhadap suatu hukum dengan mengaitkannya ada sifat tertentu. Kalau sifat itu ada pada sesuatu, maka hukum itu berlaku padanya. Tapi kalau kalau sifat itu tidak ada pada sesuatu, maka hukum itu tidak berlaku. Contohnya adalah sifat "mukmin" pada budak yang boleh "digauli" yang disebutkan dalam ayat 25 dari surat al-Nisâ' [4]:

ومن لم يستطع منكم طولا أن ينكح المحصنات المؤمنات فمن ما ملكت أيمانكم من فتياتكم المؤمنات ...

Manthûq ayat itu membolehkan menikah dengan budak mukmin. Tapi mafhûm al-shifaħ ayat itu memberikan pemahaman bahwa tidak boleh menikah dengan budak yang tidak mukmin.

2) Mafhûm al-syarth (مفهوم الشرط)
Mafhûm syarat merupakan penunjukan lafal terhadap suatu hukum berdasarkan syarat tertentu. Sebaliknya, kalau syarat itu tidak ada, maka hukum itu tidak berlaku. Contohnya adalah syarat "hamil" pada perempuan yang dicerai dalam surat al-Thalâq [65] ayat 6:

...وإن كن أولات حمل فأنفقوا عليهن حتى يضعن حملهن...

Manthûq ayat itu menghendaki wajib memberi nafkah isteri yang dicerai, kalau ia hamil. Mafhûm al-syarth ayat ini tidak mewajibkan nafkah kepada isteri yang diceraikan, kalau tidak hamil.

3) Mafhûm al-ghâyaħ (مفهوم الغاية)
Mafhûm al-ghâyaħ (limit waktu) merupakan penunjukan lafal terhadap suatu hukum berdasarkan limit waktu tertentu. Dengan demikian, kalau limit waktu itu sudah lewat, maka hukum itu tidak berlaku lagi. Contohnya "menikah dengan laki-laki lain" menjadi ghâyaħ bagi halalnya seorang perempuan yang telah ditalak tiga dinikahi lagi oleh suaminya, yang disebutkan surat al-Baqaraħ [2]: 230

فإن طلقها فلا تحل له من بعد حتى تنكح زوجا غيره فإن طلقها فلا جناح عليهما أن يتراجعا ...

Manthûq ayat itu menegaskan bahwa si suami tidak boleh lagi rujuk kepada isterinya yang sudah ditalak tiga. Mafhûm al-ghâyaħ ayat itu membolehkan kalau mantan isterinya itu telah menikah, kemudian bercerai, dengan laki-laki lain

4) Mafhûm al-'adad (مفهوم العدد)
Mafhûm bilangan merupakan penunjukan lafal terhadap suatu hukum berdasarkan suatu bilangan tertentu. Sebaliknya, untuk kasus yang sama tidak bisa diterapkan hukuman yang lebih atau kurang dari bilangan yang disebutkan lafal itu. Contohnya jumlah "100 kali pukulan" sebagai sanksi bagi pezina dalam surat al-Nûr [24] ayat 2:

الزانية والزاني فاجلدوا كل واحد منهما مائة جلدة....

Manthûq ayat itu mewajibkan dera 100 kali bagi pezina laki-laki dan perempuan. Mafhûm al-'adad-nya menyatakan tidak sahnya sanksi dera yang lebih atau kurang dari 100 kali terhadap mereka.

5) Mafhûm al-laqab (مفهوم اللقب)
Mafhûm al-laqab (sebutan atau gelar) adalah pengkhususan hukum terhadap nama tertentu, atau penunjukan lafal terhadap hukum berdasar sebutan tertentu (اسم جامد). Sebaliknya, kalau sesuatu atau orang lain lain tidak memiliki sebutan itu, tidak dikenai hukum tersebut. Contohnya pernyataan "Muhammad bin Abdullah itu adalah Rasul Allah". Manthûqnya menetapkan bahwa kerasulan itu hanya "milik" Muhammad bin Abdullah. Sedang mafhûm al-laqab-nya, yang bukan Muhammad bin Abdullah bukanlah Rasul Allah.

Dari lima kategori di atas, tidak seluruhnya diakui kehujjahannya oleh ulama. Mafhûm al-laqab adalah satu jenis mafhûm mukhâlafaħ yang tidak boleh diamalkan menurut kesepakatan ulama. Karena ia tidak bisa menghasilkan kesimpulan yang benar. Dengan diberlakukannya suatu hukum terhadap seseorang dengan laqab tertentu, bukan berarti hukum yang sama tidak bisa diterapkan kepada orang dengan laqab yang berbeda.
Sedang terhadap empat lainnya, ulama sepakat membolehkan dalam hal yang berkaitan dengan akad perjanjian dan komunikasi verbal. Walau demikian, ulama berbeda pendapat tentang kehujjahan keempatnya dalam kaitannya dengan nash syar'iyyaħ menjadi dua aliran:

1) Jumhur ulama berpendapat bahwa kalau nash mengemukakan sifat, syarat, ghâyaħ dan 'adad dalam penerapan hukumnya, maka hukum yang sama juga diterapkan terhadap sesuatu yang tidak disebutkan nash itu (furû') tapi memiliki indikasi yang sama. Karenanya, ia juga memiliki kekuatan untuk menetapkan hukum sebaliknya bagi furû' yang tidak memiliki kesamaan indikasi. Alasan mereka adalah:

a) Pengaitan suatu hukum dengan indikasi itu dalam bahasa Arab, secara otomatis akan memberikan pamahaman bahwa terhadap kasus lain yang sama indikasinya juga diterapkan hukum yang sama. Sebaliknya terhadap kasus yang tidak sama indikasinya tidak diterapkan hukum yang sama. Misalnya, Nabi pernah bersabda: "Keengganan orang kaya membayar utang adalah penganiayaan". Dengan mudah orang akan memahami bahwa "keengganan orang miskin membayar utang bukanlah penganiayaan".

b) Mengaitkan nash dengan salah satu indikasi itu memiliki arti yang sangat penting, yaitu untuk memberikan criteria penetapan hukum itu. Kecuali kalau ada penjelasan (qarînaħ) lain, maka hukum itu juga berlaku khusus, dan tidak diberlakukan mafhûm mukhâlafaħ.

2) Ulama Hanafiyyaħ berpendapat mafhûm mukhâlafaħ tidak bisa dite-rapkan dalam segala hal; suatu hukum yang dikaitkan dengan suatu indikasi hanya memiliki kekuatan (yang pasti) terhadap manthûq-nya. Sedang yang tidak menyebutkan salah satunya, tidak bisa diterapkan mukhâlafaħ-nya, tapi harus ditemukan dalam nash lain, karena:

a) 'Urf bahasa juga banyak yang tidak secara otomatis menerapkan hukum sebaliknya terhadap sesuatu yang tidak memiliki indikasi yang disebutkan secara manthûq. Contohnya larangan memakan riba yang "sifatnya" berlipat ganda, ternyata tidak memberikan "kebolehan" memakan riba yang "sifatnya" tidak berlipat ganda.

b) Banyak nash yang juga tetap bisa diterapkan hukumnya (sama), walau indikasinya tidak ada. Contohnya adalah kebolehan meng-qashar shalat dalam perjalanan dikaitkan dengan "syarat" takut diserang dalam peperangan. Tapi tetap saja meng-qashar shalat dibolehkan walaupun syarat itu tidak ada lagi.

Karena kehujjahan mafhûm mukhâlafaħ termasuk "diperdebatkan" dan "lemah", maka ulama (yang mengakui kehujjahannya) mengemukakan syarat untuk bisa berhujjah dengannya, yaitu:

1) Ia tidak bertentangan dengan dalil manthûq-nya atau mafhûm muwâfaqaħ, karena dua yang terakhir ini menempati posisi lebih kuat untuk ber-istidlâl. Tapi kalau ia bertentangan dengan qiyâs khafiy, maka mafhûm mukhâlafaħ lebih didahulukan.

2) Hukum dalam nash bukan merupakan motivasi untuk melakukan sesuatu, seperti dalam surat al-Nahl [16]: 14 (لتأكلوا منه لحما طريا). Sifat "empuk" dalam ayat ini tidak bisa dijadikan sebagai "patokan" untuk menyatakan tidak boleh memakan daging yang tidak empuk.

3) Hukum yang terdapat dalam nash bukan jawaban terhadap kasus khusus (tidak kasuistik), seperti firman Allah dalam surat Âli 'Imrân [3]: 130 di atas (tentang riba) merupakan larangan terhadap riba yang dilakukan masyarakat Arab pada waktu itu.

4) Dalil manthûq-nya disebutkan terpisah; bukan dalam satu rangkaian. Contohnya larangan menggauli isteri dalam mesjid ketika i'tikaf (al-Baqaraħ [2]; 187), adalah rangkaian dari larangan menggauli isteri saat puasa. Bukan berarti boleh mengauli isteri di luar mesjid saat puasa.

5) Manthûq-nya bukan hal-hal yang lazim terjadi. Contohnya larangan menikahi anak tiri (al-Nisâ' [4]: 23 di atas). Yang lazim terjadi anak tiri diasuh ayah tirinya. Sedang yang tidak lazim, si suami tidak menggauli isterinya. Karenanya, haram menikahi anak tiri, yang sudah digauli ibunya, baik ia dalam asuhan atau tidak. Tapi ia boleh menikahi anak tersebut kalau ia belum menggauli isterinya (ibu si anak).


Penutup
Hasil istinbath yang paling "mendekati" kebenaran baru bisa diperoleh dengan memahami maksud nash secara menyeluruh. Hal itu hanya bisa dilakukan dengan memahami makna nash itu dan dilâlaħ-nya terhadap hukum. Pemahaman itupun tidak bisa dilakukan terhadap nash secara sepotong-sepotong, tapi harus mencakup seluruh nash secara menyeluruh dan maqashid aKita menilai diri dari apa yang kita pikir bisa kita lakukan, padahal orang lain menilai kita dari apa yang sudah kita lakukan. Untuk itu apabila anda berpikir bisa, segeralah lakukan

Bukan pertumbuhan yang lambat yang harus anda takuti. Akan tetapi anda harus lebih takut untuk tidak tumbuh sama sekali. Maka tumbuhkanlah diri anda dengan kecepatan apapun itu.

Jika anda sedang benar, jangan terlalu berani dan bila anda sedang takut, jangan terlalu takut. Karena keseimbangan sikap adalah penentu ketepatan perjalanan kesuksesan anda

Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil

Anda hanya dekat dengan mereka yang anda sukai. Dan seringkali anda menghindari orang yang tidak tidak anda sukai, padahal dari dialah Anda akan mengenal sudut pandang yang baru

Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan

Tinggalkanlah kesenangan yang menghalangi pencapaian kecemerlangan hidup yang di idamkan. Dan berhati-hatilah, karena beberapa kesenangan adalah cara gembira menuju kegagalan

Jangan menolak perubahan hanya karena anda takut kehilangan yang telah dimiliki, karena dengannya anda merendahkan nilai yang bisa anda capai melalui perubahan itu

Anda tidak akan berhasil menjadi pribadi baru bila anda berkeras untuk mempertahankan cara-cara lama anda. Anda akan disebut baru, hanya bila cara-cara anda baru

Ketepatan sikap adalah dasar semua ketepatan. Tidak ada penghalang keberhasilan bila sikap anda tepat, dan tidak ada yang bisa menolong bila sikap anda salah

Orang lanjut usia yang berorientasi pada kesempatan adalah orang muda yang tidak pernah menua ; tetapi pemuda yang berorientasi pada keamanan, telah menua sejak muda

Hanya orang takut yang bisa berani, karena keberanian adalah melakukan sesuatu yang ditakutinya. Maka, bila merasa takut, anda akan punya kesempatan untuk bersikap berani

Kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan stress adalah kemampuan memilih pikiran yang tepat. Anda akan menjadi lebih damai bila yang anda pikirkan adalah jalan keluar masalah.

Jangan pernah merobohkan pagar tanpa mengetahui mengapa didirikan. Jangan pernah mengabaikan tuntunan kebaikan tanpa mengetahui keburukan yang kemudian anda dapat

Seseorang yang menolak memperbarui cara-cara kerjanya yang tidak lagi menghasilkan, berlaku seperti orang yang terus memeras jerami untuk mendapatkan santan

Bila anda belum menemkan pekerjaan yang sesuai dengan bakat anda, bakatilah apapun pekerjaan anda sekarang. Anda akan tampil secemerlang yang berbakat

Kita lebih menghormati orang miskin yang berani daripada orang kaya yang penakut. Karena sebetulnya telah jelas perbedaan kualitas masa depan yang akan mereka capai

Jika kita hanya mengerjakan yang sudah kita ketahui, kapankah kita akan mendapat pengetahuan yang baru ? Melakukan yang belum kita ketahui adalah pintu menuju pengetahuan

Jangan hanya menghindari yang tidak mungkin. Dengan mencoba sesuatu yang tidak mungkin,anda akan bisa mencapai yang terbaik dari yang mungkin anda capai.

Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah.

Bila anda mencari uang, anda akan dipaksa mengupayakan pelayanan yang terbaik.

Tetapi jika anda mengutamakan pelayanan yang baik, maka andalah yang akan dicari uang

Waktu ,mengubah semua hal, kecuali kita. Kita mungkin menua dengan berjalanannya waktu, tetapi belum tentu membijak. Kita-lah yang harus mengubah diri kita sendiri

Semua waktu adalah waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu yang baik. Jangan menjadi orang tua yang masih melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan saat muda.

Tidak ada harga atas waktu, tapi waktu sangat berharga. Memilik waktu tidak menjadikan kita kaya, tetapi menggunakannya dengan baik adalah sumber dari semua kekayaan

Jika anda ingin kembali mendengarkan rekaman audio Pak Mario Teguh dalam format mp3, silahkan masuk ke halaman Super Download

l-syari'ah. 10. Jelaskan kalimat amr dalam ayat di bawah ini!

......................................................

Adanya pengulangan dalam amr itu apabila adanya qorina pusa wajib di laksanakan

berulang-ulang seiring dengan datangnya bulan yang berulang-ulang pula.

1. Jelaskan pengertian bahyi, baik dari segi bahasa maupun menurut pendapat para ulama!

Nahyi adalah larangan melakukan suatu perbuatan dari pihak yang lebih tinggi

kedudukannya kepada pihak yang lebih rendah tingkatannya. Pendapat para ulama sepakat

bahwa nahyi itu seperti jga mar dapat di gunakan dalam berbagai arti.

2. Berikan contoh dari shigat nahyi dan apa maksudnya?

.................................................................

Maksudnya:

Setipa perintah atau apapun itu yang Rasul datangkan kepada kita taatilah semuanya karena

itu anjuran dan setiap perintah atau apa-apa yang dilarang kepada kita semua jauhilah karena

itu juga termasuk anjuran.

3. Sebutkan salah satu ayat yang menunjukkan keharusan umat Islam untuk meninggalkan

larangan Allah!

...................................................................

Artinya:

“Dan dia melarang (Yanha) dari perbuatan keji dan mungkar”.

4. Aapakah setiap shighat nahyi menunjukkan haram?

Ia

5. Sebutkan salah satu hadits Nabi yang di dalamnya terdapat nahyi dan menunjukkan

makruj!

...........................................................

6. Berikan contoh ayat yang mengandung nahyi dan menunjukkan haram!

......................................................

Yang menunjukkan haram membunuh seorang jiwa.

7. Jelaskan yang dimaksud dengan fasad dan buthah!

Adapun fasad sama dengan batal/batalnya perbutan yang di larang

Buthah: batal.

8. Bagaimana kaitan antara nahyi, fasad dan buthah?

Para lama berbeda pendapat tentang tuntutan nahyidalam kaitannya dengan fasad dan buthlan

yaitu: hal ihwal nahyi/perbuatan.

9. Jelaskan pendapat ulama-ulama ushul nahyi tentang muthlaq!

Tanpa adanya qarina yang menunjukkan sesuatu yang dilarang.

10. Apakah tuntutan dalan nahyi itu mencakup zat dan sifat yang dilarang?

Ia karena termasuk indrawi

1. Jelaskan pengertianmutlaq dan muqayyad!

Mutlaq ialah suatu lafaz yang menunjukkan hakikat sesuatu tanpa pembatan yang dapat

mempersempit keluasan artinya.

Muqayyad adalah:suatu lafaz yang menunjukkan hakikat sesuatu yang di batasi dengan

sesuatu pembatasan yang mempersempit keluasan.

2. Ada berapakah bentuk mutlaq dan muqayyad itu? jelaskan berikut contohnya!

- Suatu lafaz di pakai dengan mutlaq pada suatu nash, sedangkan pada nash lain digunakan

dengan muqayyad, keadaan ithlaq dan taqyidnya bergantung pada sebab hukum.

- Lafaz mutlaq dan muqayyad yang berlaku sama pada hukum dan sebabnya.

- Lafaz mutlaq dan muqayyad yang berlaku pada nash itu berbeda baik dalam hukmunya

ataupun sebab hukumnya.

- Mutlaq dan muqayad berbeda dalam hukumnya, sedangkan sebab hukumnya sama.

- Mutlaq dan muqayyad sama dalam hukumnya, tetapi berbeda dalam sebabnya.

...............................................................

3. Berikan contoh lafaz mutlaq yang terdapat dalam hadis!

..............................................

4. Bagaimana hukum menggunakan mutlaq dan muqayyad?

Hukum

5. Bagaimana perbedaan pendapat antara jumhur dangolongan Hanafiyah: dalam

melaksanakan dialah pada muqayyad?

- Alasan Hanafiyah: dalam melaksakan dialah lafaz atas semua hukum yang di bawah saja,

sesuai sifatnya.

- Alasan jumhur: muqayyad itu harus menjadi dasar untuk menafsirkan dan menjelakskan

maksud lafaz mutlaq.

6. Apabila kemutlaqan dan kemudayyadan suatu lafaz terdapat pada sebab hukmunya,

bagaimana solusinya menurut jumhur ulama?

Bahwa nash multaq harus di bawa kepada nash muqayyatd sehingga pemahaman terhdap

nash itu sesuai dengan ungkapan muqayyad.

7. Bagaimana pendapat terhadap imam Abu hanafiyah tentang mutlaq dan muqayyad pada

nash yang sama hukumnya? Jelaskan alasannya!

Tidak boleh membawa mutlaq pada muqayyad, melainkan masing-masingnya berlaku sesuai

dengan sifatnya karena pada kafarat zihar tidak mensyaratkan hamba mukmin.

8. Bagaimana sikap Anda terhadap dua golongan ulama di atas? Berikan argumen secara

jelas!

Menurut saya sah-sah saja karena golongan ulama di atas mempunyai kesamaan hukum

walaupun menimbulkan solusi yang berbeda.

9. Berikan contoh lafaz mutlaq yang terdapat pada hadits!

..........................................................

10. Kapan suatu lafaz mutlaq di bawa pada muqayyad?

Ada kesamaan hukum dan sebab yang menimbulkan hukum pada dua nash yang berbeda.

1. Jelaskan pengertian mantuq dan mafhum!

- Mantuq menurut bahasa: sesuatu yang di tunjukkan oleh lafaz katika di ucapkan.

Mantuq menurut istilah: penunjukan lafaz terhadap hukum sesuatu yang di sebutkan dalam

pembicaraan (lafal).

- Mafkum ialah: petunjuk lafaz pada suatu huku yang tidak di sebutkan oleh lafaz itu sendiri.

2. Bagaiaman persamaan antara mantuqdan mafhum?

Dapat disimpulkan bahwa mantuq dan mafhum ini termasuk madhul, bukan dilalah.

3. Berikan contoh hukum berdasarkan mantuq!

............................

4. Berikan contoh hukum yang dihasilkan melalui mafhum dari hadis!

.............................

5. Terbagi kepada berapa bagaiankah maghum itu? Jelaskan!

- Mafhum muwaqadah ialah: penunjukkan hukum yang tidak di sebutkan untu memperkuat

hukum yang disebutkan karena terdapat kesamaan antara keduanya dalam meniadakan /

menetapkan.

- Mafhum mukhalafah ialah: Penunjukkan lafaz atas ketetapannya hukum yang tidak di

sebutkan kebalikan dari yang disebutkan karena tiadanya suatu persyaratan pada hukum.

6. Apakah para ulama membedakan antara fahwa al-khitab dan Lahn Al-kitab?

Ia

7. Kapan mafhum mukhalafah dapat di jadikan hujjah syara’ menurut jumhur Ushuliyyin?

Apabila menyebutkan kaitan syara’, sifat, batasan waktu atau jumlah bilangan itu bertujuan

untuk tasyri’

8. Jelaskan macam-macam mafhum?

- Mafhum sifat ialah: petunjuk yang dibatasi oleh sifat, menunjukkan berlakunya kebaikan

hukum terhadap yang tidak disebutkan.

- Mafhum syarat, adad dan ghayah

Mafhum mukhalafah yang qayidnya berfungsi seperti mafhum syarat, mafhum adad, dan

mafhum gayah dapat di jadikan hujja syara’

9. Apakah yang dimaksud dengan mafhum sifat menurut Asy-Syaikani?

Mafhum sifat dapat dijadikan sebagai hujjah, ia di pandang sebagai salah satu cara untuk

menggali hukum.

10. Jelaskan apa yang di maksud dengan mafhum syarat, adad, dan ghyah!

Mafhum adad, dan mafhum gayahdapat di jadikan hujja syarat sedangkan ulaam yang tidak

memandang mafhum mukhallafah sebagai hujja syara’

1. Jelaskan apa yang di maksud dengan ta’ruf Al-Adilah menurut etimologi!

Pertentangan

2. Bagaimana defensi ta’ruf al-adilah menurut Imam Asy-Syaikani?

Suatu dalil yang menentukan hukum tertentu terhadap suatu persoalan, sedangkan dalil lain

menentukan hukum yang berbeda dengan dalil itu.

3. Apakah persamaan dan perbedaan antara defenisi ta’ruf ad-adilah yang di kemukakannya

oleh kamal ibn humandeganAli Hasababallah!

- Persamaan: sama-sama mempunyai pertentangan dalil.

- Perbedaan: Menurut kamal Ibnu Human: Pertetangan antara dua dalil yang tidak mungkin

untuk di kompromikan antara keduanya sedangkan menurut Ali Hasaballah: terjadinya

pertentangan hukum yang di kandung satu dalil dengan hukum yang diakndung dan dalilnya

yang berada dalam satu derajat.

4. Berikan contoh ta’rul ad-adilah, dan bagaimana cara penyelesaiannya?

.............................

Penyelesaiannya:

Nasakh, tarjih, al-jam’wa at-taufiq.

5. Bolehkah mempertentangkan dua kali dalil yang tidak sama kuaitasya? Jelaskan!

Boleh karena pertentangan tersebut bukanlah pertentangan yang aktual.

6. Sebutkan urutan yang harus di tempuh oleh seorang mujtahid apabiamendapat ta’arudh ad-

adilah menurut golongan hanafiyya!

- Nasakh

- Tarjih

- Al-Jam’wa at-taufiq

- Tasaqut ad-dalilain

7. Apakah perbedaan cara penyelesaian ta’rulal-adilah antara golongan hanafiyah dengan

syafi’iyah, makkiyah dan hanabilah?

- Golongan hanafiyyah yaitu:

Nasakh, tarjih, al-jam’at al-taufiq, tasaqut ad-dalilain.

- Golongan syafi’iyah, makkiyah dan hanabillah.

Jamu’wa al-taufiq, tarjih, nasakh, tatsaqut al-dalilain.

8. Kapan seorang mujtahid dapat menggunakan metode tarjih dan bagaimanakah caranaya?

Kapan? Apabilaada 2 dalil yang bertetangan sulituntuk dilacak sejarahnya .

Caranya:

- Petunjuk terhadap kandungan lafaz suatu nash

- Dari segi yang dikandungnya

- Dari segi keadilan periwayatan suatu hadis

9. Dalam Islam darah yang seperti apakah yang diharamkan itu bagaimanakah

menetapkannya?

Darah yang mengalit

Cara menetapkannya dengan menggunakan ayat dan suarah Al-an’am:145

10. Apakah yang dimaksd dengan tatsakut al-dvillain?

Meninggalkan kedua dalil tersebut dan berijtihad dengan dalil yang kualitasnya lebih rendah.

1. Jelaskan pengetian nasakh secara hanafiyyah dan berikan contoh kalimatnya!

Nasakh: pembatalan atau penghapusan

Contoh:.....................................................

2. Tulis 2 defenisi menurut syari’at yang masyhur di kalangan ulama ushul!

- Penjelasan berakhirnya masa berlaku suatu hukum melalui dalil syari

- Pembataan hukum syara’ yang ditetapkan terdahulu dari orang mukallaf dengan hukum

syara’ yang datang kemudian.

3. Sebutkan rukun nasakh!

- Adat nasakh

- Nasikh

- Mansukh

- Mansukh ‘anhu

4. Bagaimana himkamh adanya nasakh bagi kaum muslimin?

Berkataian dengan pemeliharaan kemaslahatan umat manusi, sekaligus menunjukkan

fleksibilitas hukum islam